48. KISAH SEDIH DI MASA LALU

2004 Kata

Erlan mengusap air matanya yang masih tersisa di pipinya. Ia kemudian tersenyum canggung di hadapan Giana karena malu. “Ini pertama kalinya aku nangis di hadapan orang lain. Dulu aku melakukan dini di hadapan papa, mama dan Regina.” “Kamu malu ya?” Pria itu mengangguk kecil. “Sedikit, tapi lega.” “Nggak usah malu. Sama pasangan sendiri kok malu.” Giana ikut mengusap pipi Erlan dengan kedua tangannya. “Aku harap dia nggak akan ganggu aku lagi. Aku sudah tenang tanpa dia, aku sudah bahagia dengan keluargaku sekarang, kamu dan mama Maria. Aku punya Contento yang sudah aku anggap sebagai rumah keduaku dan aku nggak butuh kehadiran dia.” Gumam pria itu. Giana menatap bingung dengan ucapan Erlan. “Ganggu lagi? Jadi mama kandung kamu suka gangguin kamu? Kenapa?” Erlan mengangguk pelan. “Gi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN