Zeya menatap layar monitor besar yang terpasang di ruang rapat, matanya berkaca-kaca. Semua fokus ada padanya, tapi kali ini bukan rapat yang harus ia hadapi. Melainkan kehadiran Elina yang selalu menantangnya, dengan senyum tipis yang terkadang lebih tajam daripada pisau. Elina duduk di sudut ruangan, menatap Zeya dengan tatapan tajam. Zeya tahu, tidak ada yang lebih menegangkan daripada berada di bawah pengaruh Elina. Selama ini, Elina selalu memanfaatkan kehadirannya untuk menjatuhkan Zeya dengan halus, bahkan tanpa Zeya sadari. “Zeya, saya tahu kamu pasti merasa tertekan dengan semua ini,” kata Elina dengan suara datar, namun penuh arti. “Tapi ingat, ini bukan dunia yang mudah. Dan kamu bukan orang yang berpengalaman dalam menghadapi dunia seperti ini.” Zeya menahan napas, mencoba m