“Dokter!” Pekikan melengking itu memaksa Althair yang baru memejamkan mata untuk kembali membuka kelopak matanya. Jarum jam dinding menunjukkan pukul 01.56 dini hari. Baru delapan menit lalu ia menyelesaikan laporan operasi tumor dasar tengkorak, dan baru lima menit lalu ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidur di atas sofa. “Dokter Althair!” Panggilan itu terdengar lagi, disusul derap langkah kaki tergesa di koridor. Althair menegakkan posisi duduk tepat saat Zayna muncul dan berdiri terengah-engah di ambang pintu. Jepit stroberi ikoniknya sudah miring, rambutnya mencuat berantakan, dan napasnya tersengal. “Ada pasien trauma kepala baru masuk ke IGD, Dok,” lapor Zayna cepat. Aura kantuk Althair menguap seketika. Ia langsung berdiri tegak. “Bagaimana skor Glasgow Coma Scale-nya?”

