“Kenapa pasien ini tidak kontrol ulang?” Suara Althair memecah keheningan di ruang diskusi kecil yang terletak di lantai tujuh tersebut. Seketika itu juga, lima orang koas yang duduk mengelilingi meja langsung menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk memeriksa berkas laporan di tangan masing-masing. Sudah hampir dua minggu kelompok bimbingan stase bedah saraf ini berjalan di bawah pengawasan Althair, dan seluruh anggota kelompok telah sampai pada satu kesimpulan yang sama, Dokter Althair belakangan ini bertingkah jauh lebih galak dari biasanya. Entah karena dia kurang tidur, sedang kesal pada dunia, atau murni karena tertekan oleh keberadaan satu koas tertentu di kelompok mereka. “Siapa yang mau jawab?” tanya Althair lagi, mengedarkan pandangan tajamnya. Hening. Semua orang saling melirik

