Pagi itu, sebuah sedan tua berwarna gelap kembali membelah kabut tipis di pelataran parkir Dewantara Medika. Catnya masih sama seperti yang dulu, kusam di beberapa bagian akibat terik matahari dan hujan. Pada bumper belakang, goresan panjang memudar dari peristiwa lalu masih membekas jelas. Bahkan suara mesin empat silinder itu berderam kasar, tidak pernah benar-benar terasa halus layaknya jajaran mobil mewah direksi. Namun kali ini, Althair Dewantara sama sekali tidak sedang menyamar. Ia datang murni menggunakan kendaraan itu sebagai pilihan utamanya. Petugas pos parkir di gerbang depan sempat mengerutkan dahi, mengamati sosok di balik kemudi hingga dua kali sebelum memberanikan diri mendekat. ”Dokter Althair?” sapa petugas itu ragu. Althair menurunkan kaca jendela mobilnya perla

