”Jangan sungkan, Dok. Silakan masuk,” ujar Pak Rahmat sembari membuka lebar pintu pagar besi dari sebuah rumah kecil yang terletak persis di samping area bengkel. Pria paruh baya itu menoleh ke belakang dengan senyuman tulus. “Rumah kami memang sangat sederhana, tidak seperti rumah-rumah besar di kota.” Althair menghentikan langkah kaki, berdiri diam selama beberapa detik tepat di depan halaman rumah tersebut. Matanya meneliti sekeliling. Halaman itu hanya beralaskan semen biasa. Beberapa pot tanaman bunga berukuran sedang berjajar rapi di sepanjang tepian pagar, memberikan sedikit nuansa segar. Sepasang sandal karet yang sudah tampak usang tersusun dengan tingkat kerapian yang pas di depan ambang pintu masuk. Di sudut teras, seekor kucing domestik berbulu oranye tampak sedang tidur m

