Dia yang Selalu Ada

1222 Kata

Malam itu bukan malam pertengkaran. Bukan juga malam penuh teriakan atau kata-kata kasar. Justru karena itulah ia membekas terlalu dalam. Aku berdiri di ruang tamu rumah mama mertua, tempat dimana kami tinggal slama 4 tahun ini. Semua terasa tenang dan dingin. Seperti keputusan yang sudah dipikirkan matang-matang, tanpa ruang untuk ditawar. Di atas meja, map cokelat berisi salinan putusan pengadilan agama masih tergeletak. Resmi. Sah. Tidak ada lagi status "istri" di belakang namaku. Aku, Selira. Janda. Raka berdiri di dekat jendela, punggungnya menghadapku. Kemeja putih yang ia kenakan tampak licin tanpa satu pun lipatan. Seolah hari ini hanyalah hari kerja biasa baginya. Seolah keputusan besar yang baru saja diambil tidak meninggalkan retak apa pun. "Jadi... ini benar-benar se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN