Dia datang di jam besuk yang tidak biasa. Bahkan sebelum namanya dipanggil, aku sudah merasa ada sesuatu yang berbeda hari itu. Udara di ruang besuk terasa lebih berat, lebih senyap, seolah semua suara sengaja diturunkan volumenya agar aku bisa mendengar detak jantungku sendiri. "Selira." Suara sipir memanggil namaku lebih dulu. Aku berdiri, kebingungan, belum sepenuhnya sadar. Biasanya aku harus menunggu lebih lama. Biasanya tak ada siapa-siapa. Lalu nama itu disebut. Rendra. Aku berdiri terlalu cepat sampai kursi plastik di belakangku terseret dan menimbulkan bunyi nyaring. Beberapa kepala menoleh, tapi aku tidak peduli. Jantungku berdegup kencang, nyaris menyakitkan. Saat sosok itu muncul di balik pintu besi, dadaku langsung terasa hangat... hangat yang aneh. Hampir menyakitkan

