PoV Raka. "Selira!" Pintu besi itu menutup tepat di depanku. Bunyinya berat, panjang, memantul di lorong. Seperti sengaja dibiarkan agar aku mendengarnya sampai tuntas. Sampai tak ada lagi ruang untuk pura-pura kuat. "Ya Tuhan. " Aku berdiri beberapa detik terlalu lama di sana. Menatap pintu abu-abu itu. Bodoh berharap Selira akan berbalik. Mengatakan sesuatu. Apa saja. Bahkan amarah pun akan terasa lebih manusiawi daripada keheningannya barusan. Tapi tidak ada. Yang tersisa hanya lorong dingin, lampu putih yang terlalu terang, dan dadaku yang terasa sesak. Aku menghembuskan napas kasar, lalu tertawa pendek. "Puas?" Satu kata itu keluar dari mulutku sebelum sempat kupikirkan. Aku menoleh. Rendra berdiri beberapa langkah dariku. Jasnya rapi, dasinya lurus. Wajahnya tenang.

