Aku tidak berteriak ketika kabar itu sampai padaku. Tidak ada jerit histeris. Tidak ada amukan. Aku hanya duduk di sudut sel, memeluk lutut, menatap dinding kusam yang warnanya tak lagi bisa kupastikan. Lampu neon menggantung di langit-langit. Cahayanya redup dan berkelip pelan. Seolah dunia memutuskan untuk meredupkan semuanya bersamaan. Warna. Suara. Bahkan harapan. Arsa. Diambil Raka. Aku terkekeh kecil. Suara itu terdengar asing di telingaku sendiri. Kering, patah, tidak bernyawa. Seperti suara orang lain yang kebetulan keluar dari mulutku. Lucu. Bertahun-tahun aku menahan hidup dengan kedua tangan yang gemetar. Menggendong Arsa di kamar kontrakan sempit dengan dinding lembap berbau jamur. Menghitung receh untuk s**u, sambil berpura-pura kuat di setiap kali malam yang tera

