Flashdisk itu hilang pada malam hujan. Isinya bukan sembarang data. Di dalamnya tersimpan bukti transaksi, jalur uang, dan nama-nama. Rantai panjang yang jika terbuka, bukan hanya aku yang tenggelam. Namun, banyak kepala akan ikut jatuh bersamaku. Aku masih ingat raut wajahnya, panik, tapi cepat menutupinya. Dia cukup pintar untuk menguasai keadaan, cukup tenang untuk membuatku ragu pada instingku sendiri. Setelah dia pulang, aku duduk lama di sofa. Diam. Memikirkan penolakannya. Aku pikir, setelah semua yang terjadi, Selira akan membuka hati. Nyatanya tidak. Walau sudah dicampakkan Raka, cinta Selira tetap tertambat padanya. Aku meneguk kopi hitam yang pahit. Rasanya sama seperti perasaanku saat itu... hancur, tapi kutelan juga. Setelahnya aku kembali ke kamar untuk berganti pakaia

