Aku duduk kaku di bangku terdakwa ketika layar besar di ruang sidang menampilkan rekaman demi rekaman. Awalnya aku tidak benar-benar mengerti apa yang sedang ditunjukkan. Angka-angka bergerak cepat, garis-garis alur yang saling berpotongan, waktu dan lokasi yang terasa asing. Aku mencoba fokus, memaksa diri ini untuk memahami. Namun, semuanya terasa terlalu jauh. Sampai satu nama muncul. Rendra. Aku menegakkan punggung tanpa sadar. Sekali. Dua kali. Lalu berkali-kali. Setiap penjelasan jaksa, setiap pemaparan Raka, setiap bukti yang ditampilkan... semuanya seperti bergerak dalam satu arah yang sama. Seolah semua benang kusut itu, cepat atau lambat, selalu berujung padanya. Dadaku terasa hampa. Bukan sakit. Bukan marah. Kosong. Aku menoleh ke arah kursi pengunjung. Rendra du

