"Tidak ada sidik jarimu di barang bukti. Itu yang paling utama." Kalimat itu berdengung di kepalaku sejak pagi. Bahkan sebelum aku melangkah ke ruang sidang dan kembali duduk di kursi itu. Aku sudah tahu hidupku tak akan pernah sama. Tidak ada sidik jarimu. Aku mengulangnya dalam hati, seperti mantra yang rapuh. Seperti sesuatu yang kugenggam erat karena takut ia pecah jika kupikirkan terlalu keras. Ruang sidang terasa lebih penuh hari ini. Meski wajah-wajahnya sebagian besar asing. Bangku pengunjung terisi, suara bisik-bisik berpendar di udara, lalu lenyap ketika panitera berdiri dan memanggil majelis hakim. Aku berdiri bersama yang lain. Lututku sedikit gemetar, seolah berat badanku bertambah dua kali lipat. Jantungku berdetak keras, terlalu keras untuk d**a yang terasa sempit. K

