Pov Raka Aku berdiri beberapa langkah di belakang Selira. Cukup dekat untuk melihat bahunya yang menegang, cukup jauh untuk tidak ikut masuk ke momen yang jelas bukan milikku. Tanganku terlipat di depan d**a, kebiasaan lama setiap kali aku harus menahan diri... menahan reaksi, menahan emosi, atau menahan keinginan untuk ikut campur. Gedung itu akhirnya ada di belakang kami. Sidang sudah selesai. Putusan sudah dibacakan. Dan kini Selira berjalan tanpa borgol, tanpa bayangan petugas di sisi tubuhnya. Aku seharusnya merasa lega. Namun yang kurasakan justru sesuatu yang lebih berat, lebih dalam, dan tidak bisa dibereskan hanya dengan napas panjang. Aku tahu betul mengapa perasaanku seperti ini. Karena jauh sebelum palu hakim diketukkan, jauh sebelum Selira melangkah keluar sebagai perem

