Pria yang Dulu Pergi

1326 Kata
PoV Raka Aku tahu, sejak hari itu, hidupku tak akan pernah benar-benar kembali seperti dulu. Hari ketika aku berdiri di ruang sidang dan melihat Selira duduk di kursi terdakwa. Kurus, pucat, matanya menyimpan luka yang tak sempat sembuh. Sesuatu di dadaku runtuh tanpa suara. Aku bisa berdiri sebagai pengacara. Bisa bicara lantang di hadapan hakim. Namun, di hadapannya... aku hanyalah laki-laki yang pernah pergi ketika ia paling membutuhkan. Dan kini, aku justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di antara dia dan kehancuran. Aku keluar dari gedung pengadilan dengan langkah cepat. Matahari siang menyengat, tapi kepalaku terasa dingin. Berkas perkara berada di bawah lenganku. Tebal, rapi, terlalu rapi. Semua terlihat seperti skenario yang disusun dengan hati-hati. Aku masuk ke mobil, menutup pintu keras-keras. Tanganku gemetar saat membuka berkas itu lagi. Foto-foto, laporan penggeledahan, keterangan saksi, semuanya tampak sempurna. Dan justru itu yang membuatku curiga. Tidak ada kejanggalan kecil pun. Tidak ada celah. Seolah-olah seseorang ingin memastikan Selira benar-benar terlihat bersalah. Aku menghela napas panjang. "Ini bukan kebetulan," gumamku. Aku menyalakan mesin, lalu melajukan mobil menuju kantor lama. Tempat aku dulu bekerja sebelum mengambil kasus ini. Banyak kenalan lama di sana. Dan aku tahu, jika ada yang bisa membantu menggali sesuatu di balik berkas-berkas rapi ini, mereka lah orangnya. Sore itu aku duduk berhadapan dengan Bagas, mantan rekan kerjaku di kepolisian. Wajahnya terlihat ragu sejak awal melihat namaku di kartu tamu. "Kamu yakin mau mengorek kasus ini, Raka?" katanya pelan. "Banyak yang nggak beres." "Aku tau," jawabku singkat. "Justru karena itu aku di sini." Bagas menghela napas, mencondongkan badan. 'Barang buktinya terlalu bersih. Biasanya penggerebekan narkoba itu... berantakan. Ada saksi lingkungan, laporan RT, kronologi jelas. Tapi ini? Seolah-olah semua disusun biar pas." Aku mengangguk. "Siapa yang melaporkan?" Bagas ragu sejenak. "Laporan anonim. Masuk lewat hotline. Tapi yang aneh, pelapor menyebut detail yang terlalu spesifik. Jam, lokasi, bahkan posisi barang." Dadaku mengencang. "Dan satu lagi," lanjutnya, menurunkan suara. "Nama kontrakan yang disebut di laporan... bukan atas nama Selira." Aku menatapnya tajam. "Apa?" "Kontrak rumah itu atas nama seorang pria." Jantungku berdegup keras saat Bagas menyebut sebuah nama. Nama itu tidak asing, bahkan aku sangat mengenalnya. Hanya saja aku tak menyangka jika memang dia pelakunya. "Kenapa namanya nggak muncul di berkas perkara?" tanyaku. Bagas mengangkat bahu. "Karena secara administratif, dia tidak tercatat tinggal di sana." Aku menutup mata sesaat. Potongan-potongan itu mulai menyatu dengan cara yang tidak kusukai. Seseorang telah menyiapkan panggung ini dengan rapi. Dan Selira... hanya dijadikan tumbal. Malam itu aku pulang ke apartemen dengan kepala penuh. Aku membuka laptop, mengeluarkan semua dokumen yang sempat kufotokopi. Kuperiksa satu per satu, mencocokkan tanggal, jam, nama. Lalu aku menemukannya. Aku bersandar di kursi, menutup wajah dengan tangan. Nafasku berat. "Ya Allah..." gumamku. Aku teringat wajah Selira di ruang sidang. Tatapan kosongnya. Bahunya yang menegang. Matanya yang menyimpan ketakutan. Dan entah kenapa, harapan yang masih tersisa padaku. Rasa bersalah menyergap seperti ombak. Dulu, aku memilih diam saat keluargaku menghancurkannya. Aku membiarkan ia pergi sendirian, membawa luka yang bahkan tak pernah kutanyakan. Dan sekarang... dia kembali dalam hidupku, tapi sebagai terdakwa kasus narkoba. Ironis. Aku menatap foto kami yang terselip di laci meja. Foto lama. Kami tersenyum di depan rumah mama. Aku meraih foto itu perlahan. "Maaf," bisikku. "Aku terlambat." Ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. "Hentikan penyelidikan kalau kamu masih ingin dia selamat." Aku menegang. Kujawab cepat, "Siapa ini?" Tak ada balasan. Malam itu aku tidak tidur. Aku duduk di ruang kerja dengan lampu redup, menatap layar ponsel yang tak lagi menyala. Pesan ancaman itu masih terngiang di kepalaku, berulang-ulang, seperti gema di ruang kosong. Bukan hanya ancaman biasa. Kalimat itu ditulis oleh seseorang yang tahu betul apa yang sedang kulakukan. Seseorang yang mengawasiku. Aku menarik napas dalam, mencoba berpikir jernih. Jika mereka berani mengirim pesan secepat itu, berarti gerakanku sudah terpantau sejak awal. Sejak aku menginjakkan kaki di kantor lama. Sejak aku bertanya pada Bagas. Artinya, lingkaran ini jauh lebih sempit dari yang kuduga. Aku mengambil map lain dari laci, catatan pribadi yang tak pernah kuberikan pada siapa pun. Di sana tertulis nama-nama orang yang pernah dekat dengan Selira. Orang-orang yang dulu mengisi hidupnya ketika aku terlalu sibuk dengan egoku sendiri. Juga nama orang yang Bagas sebut tadi, sebagai penyewa resmi konrtakan Selira. Jika benar dia terlibat, maka ini bukan sekadar fitnah. Ini rencana. Dan Selira... dia dijadikan umpan. Dadaku mengeras mengingat wajahnya di ruang sidang. Cara ia menunduk. Cara jemarinya gemetar. Selira bukan perempuan bersalah. Ia perempuan yang sedang dilindungi oleh seseorang... atau justru dikorbankan oleh seseorang. Ponselku kembali bergetar. Nomor tak dikenal. Kali ini, hanya satu kalimat pendek: "Berhenti sekarang, atau anak itu yang jadi taruhannya." Napas di dadaku tercekat. Anak itu. Siapa maksudnya? Tangan kiriku mengepal, rahangku mengeras. Tidak. Ini bukan sekadar peringatan. Ini deklarasi perang. Aku berdiri, meraih jaket, dan menatap bayanganku di cermin. Lelaki di hadapanku bukan lagi pengacara yang ragu-ragu. Bukan mantan suami yang menyesali masa lalu. Ini pria yang akan membongkar segalanya... apa pun risikonya. "Aku tidak akan mundur," gumamku lirih. "Kali ini, aku akan datang sampai ke akar. *** Setelah menerima pesan itu, aku tahu aku tak bisa lagi diam. Tak ada pilihan lain selain menemui Selira. Semua potongan yang selama ini berserakan di kepalaku harus disatukan. Dan hanya dia yang memegang kuncinya. Langkah kakiku cepat menyusuri lorong ruang besuk. Kali ini aku tidak datang sebagai pengacara. Aku datang sebagai laki-laki yang ingin tahu kebenaran, apa pun risikonya. Dadaku berdegup keras saat kulihat ia berdiri di sana, memeluk seorang anak kecil erat-erat. Aku menelan ludah, berusaha menenangkan diri. Lalu pandanganku beralih pada perempuan paruh baya di sampingnya. "Siapa...?" tanyaku pelan, menunjuk ke arahnya. "Ibu siapa?" Perempuan itu tampak kikuk. Ia melirik Selira sejenak, seolah meminta izin sebelum menjawab. "Saya Rini," katanya. "Tetangganya Lira." Tetangga. Kata itu menggema aneh di telingaku. Bukan keluarga. Bukan kerabat, tapi kehadirannya terlalu dekat, terlalu akrab. Aku kembali menatap Selira. "Sejak kapan kamu sedekat ini dengan tetangga sampai anak pun dibawa ke sini?" Nada suaraku mungkin terdengar menekan, tapi aku tak bisa menahannya. Terlalu banyak hal yang tak masuk akal. Selira menghela napas panjang. "Raka, tolong. Jangan mulai lagi." "Mulai apa?" aku melangkah sedikit mendekat. "Aku cuma bertanya. Kenapa dia yang datang menjengukmu? Kenapa bukan keluargamu? Dan anak itu siapa-" "Cukup." Suara Selira meninggi, tajam, membuatku terdiam. "Ini bukan urusanmu lagi," lanjutnya dingin. "Kita sudah bercerai. Apa pun yang terjadi setelah itu bukan hakmu untuk diadili." Bu Rini tampak gelisah. Ia maju setengah langkah, mencoba menenangkan suasana. "Pak, sebaiknya jangan dipaksakan. Lira sedang tidak baik-baik saja." Aku menatapnya tajam. "Ibu siapa sebenarnya?" Wajah perempuan itu menegang, tapi suaranya tetap sopan. "Saya hanya tetangganya. Saya membantu sebisanya." "Lalu kenapa Ibu yang membawa anak itu?" desakku. Sebelum Bu Rini menjawab, Selira memotong dengan suara tegas, "Karena aku yang memintanya." Nada suaranya tak memberi ruang bantahan. "Aku gak akan memberimu penjelasan apa pun tentang Arsa." "Arsa? Jadi namanya Arsa?" Dadaku seperti dihantam sesuatu yang berat. "Jadi... anak itu memang--" "Cukup!" Selira meninggikan suara, matanya memerah. "Jangan lanjutkan. Jangan di sini. Jangan sekarang." Keheningan jatuh di antara kami. Bu Rini menunduk, jemarinya menggenggam tas erat-erat. Anak kecil itu bersembunyi di balik kaki Selira. Mengintip dengan mata polos yang entah kenapa terasa menusuk dadaku. "Selira..." Aku bertanya rendah, berat, tertahan. "Anak siapa itu?" Selira refleks memeluk anak itu lebih erat. Aku melangkah mendekat, satu langkah yang terasa seperti ancaman sekaligus pengakuan. "Apa... setelah kita bercerai... kamu menikah lagi?" Selira mematung. Aku menunggu tapi tak satupun kata terucap dari bibirnya. "Kalau begitu... kenapa wajah anak ini--" Napasnya tercekat. "--mirip sekali denganku?" Selira lalu berbalik pada Bu Rini. "Bu, sebaiknya pulang sekarang. Terima kasih sudah mengantar." Bu Rini mengangguk pelan. Ragu, lalu melangkah pergi membawa paksa anak itu walau bersimbah tangisan. Sebelum benar-benar berbalik, Bu Rini sempat menatapku aneh, seolah mengandung sebuah permintaan. Aku ingin menghentikan mereka. Ingin memaksa jawaban. Ingin berteriak. Namun Selira sudah memalingkan wajahnya dariku. Dan saat pintu ruang besuk tertutup perlahan, satu kesadaran menghantamku tanpa ampun. Selira bukan sekadar menjauh dariku. Dia sedang melindungi sesuatu... atau seseorang... dariku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN