Pagi itu datang tanpa suara. Tidak ada cahaya hangat yang menyelinap dari jendela kecil selku, hanya temaram kelabu yang menggantung seperti kabut.
Aku terbangun dengan d**a sesak, seolah ada sesuatu yang terlepas dariku saat aku terlelap.
Sesuatu yang tak bisa lagi kugenggam.
Perasaanku buruk. Sangat buruk.
Aku bahkan belum sempat duduk sempurna ketika langkah kaki terdengar di lorong.
Bukan langkah sipir biasa. Ada jeda. Ada keraguan. Dan entah kenapa, jantungku langsung berdebar tak karuan.
“Selira,” suara seorang sipir perempuan memanggil dari balik jeruji. “Ada titipan untuk kamu.”
Aku bangkit perlahan, kakiku terasa lemas.
“Titipan apa, Bu?”
Ia tidak langsung menjawab. Hanya menyerahkan sebuah kotak makanan berlapis kain bersih, lalu selembar kertas kecil yang dilipat rapi.
Tanganku gemetar saat menerimanya. Jantungku terasa mau melompat keluar.
“Ada pesan juga,” katanya singkat.
"Dari siapa?"
"Gak tau. Saya gak kenal. Tapi kayaknya ibu-ibu yang suka besuk kamu."
Ucapan itu membuat dadaku seketika sesak. Aku duduk kembali di sudut ranjang sempit, membuka lipatan kertas itu dengan jari bergetar.
"Selira, maaf Ibu gak bisa datang hari ini. Arsa sudah dijemput dinas sosial. Katanya untuk sementara."
Aku tersentak dengan d**a sesak.
"Maaf, Ibu gak bisa menolak. Ibu titipkan makanan ini. Jaga dirimu baik-baik."
Duniaku berhenti berputar.
“Gak…” bisikku pelan. “Ini gak boleh terjadi…”
Tanganku gemetar hebat. Kertas itu jatuh ke lantai, tapi aku tak sanggup membungkuk mengambilnya.
Dadaku seperti dihantam palu besar berulang kali. Napasku pendek-pendek, pandanganku berkunang.
Arsa.
Anakku.
Diambil.
Bukan oleh Raka.
Bukan oleh orang yang kukenal, tapi oleh sistem.
Oleh tangan-tangan asing yang tak tahu apa-apa tentang tangisku di malam hari. Tentang doaku tiap subuh. Tentang bagaimana aku menggenggamnya seolah dunia akan runtuh jika kulepas sedetik saja.
Aku merosot ke lantai, memeluk lutut, menekan wajah ke dalam kain lusuh bajuku.
“Maaf, Nak…” bisikku lirih. “Mama gagal menjaga kamu…”
Air mataku jatuh satu per satu, membasahi lantai dingin. Tak ada yang bisa kulakukan. Tak ada yang bisa kuperjuangkan dari balik jeruji ini.
Bahkan untuk memeluk anakku sendiri, aku tak berdaya.
Tak lama kemudian, pintu sel kembali terbuka. Kali ini dua sipir berdiri di sana, ekspresinya datar.
“Mulai hari ini kamu dipindahkan ke sel lain,” kata salah satu dari mereka.
“Instruksi dari atasan.”
Aku hanya mengangguk. Tidak ada tenaga untuk bertanya atau berpikir panjang.
Aku mengikuti langkah sipir yang berjalan di depan, melewati lorong penjara yang terasa lebih sepi dari biasanya.
Suara langkah kaki kami menggema pelan, membuat suasana terasa kaku dan canggung.
Beberapa tahanan menoleh saat aku lewat. Ada yang berbisik, ada yang hanya menatap sebentar lalu kembali diam.
Aku tahu mereka penasaran, tapi aku tidak peduli. Kepalaku sudah terlalu penuh.
Kami berhenti di depan sebuah pintu besi. Sipir itu membuka kunci lalu memberi isyarat agar aku masuk.
“Di sini,” katanya singkat.
Aku melangkah masuk. Sel ini berbeda dari sebelumnya. Lebih bersih, tidak bau, dan hanya ada satu ranjang besi dengan kasur tipis. Tidak ada tahanan lain.
Sepi.
Terlalu sepi.
Pintu ditutup kembali dari luar. Suaranya menggema cukup keras hingga membuat dadaku terasa sesak. Aku berdiri beberapa detik, lalu duduk di tepi ranjang.
Aku menatap sekeliling, mencoba mencerna keadaan. Dipindahkan tanpa penjelasan. Tanpa pemberitahuan. Tanpa tahu alasannya.
Aku tahu ini bukan kebetulan.
Pasti ada campur tangan seseorang. Seseorang yang punya kuasa. Seseorang yang namanya sejak tadi berputar-putar di kepalaku.
Raka.
Nama itu melintas tanpa permisi di benakku.
Dia pasti yang mengatur ini. Menggunakan kekuasaannya. Menggerakkan koneksi yang bahkan aku tak tahu sejauh apa jangkauannya.
Aku seharusnya lega. Tapi justru rasa sesak itu semakin menekan.
Karena aku tahu, setiap perlindungan yang datang darinya selalu punya harga.
Dan aku tidak tahu apakah aku sanggup membayarnya.
***
Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Makanan datang teratur. Tidak lagi nasi dingin yang sering basi.
Ada sayur, ada lauk, bahkan sesekali buah. Para sipir memperlakukanku lebih… hati-hati.
Tidak kasar.
Tidak juga ramah.
Netral.
Namun para tahanan lain tak sepenuhnya berhenti memperhatikanku.
Bisik-bisik masih ada.
“Katanya punya orang kuat.”
“Makanya dipindah.”
“Katanya anaknya diambil negara.”
Wulan bahkan berdiri di depan selku, menyender santai ke jeruji, matanya menyipit penuh arti.
“Denger-denger… anak lo sekarang udah diurus negara, ya?” katanya ringan, seolah cuma nanya soal cuaca.
Dadaku langsung mengeras. Aku tak menjawab.
Wulan tersenyum miring. “Pantesan lo keliatan kosong. Ibu yang anaknya diambil negara tuh biasanya emang begitu.”
Aku menatapnya tajam, tapi dia justru melangkah lebih dekat.
“Eh, tapi jangan sedih,” lanjutnya datar.
“Kan sekarang lo naik kelas.”
Tatapannya melirik ke selku yang lebih sepi.
“Dapet kamar spesial. Sendiri. Enak, ya? Nggak semua orang di sini seberuntung lo.”
Nada suaranya menusuk, dingin, penuh sindiran.
“Kayaknya emang ada yang jagain lo dari luar,” tambahnya pelan, nyaris berbisik.
“Atau… ada yang masih peduli.”
Wulan tersenyum tipis, senyum yang tak mengandung empati sedikit pun.
Aku menatapnya lekat. Entah mengapa tiba-tiba keberanianku muncul. Aku melangkah mendekat.
Tidak agresif.
Tidak tergesa.
Suaraku tenang, tapi dingin.
“Jadi sekarang kamu sadar,” ucapku pelan, “kalau aku bukan tahanan biasa?”
Wulan mendengus kecil. “Maksud lo apa?”
Aku menatapnya lurus, tanpa kedip.
“Maksudnya… aku punya orang yang menjamin hidupku di sini tetap aman.”
Dia terkekeh, tapi nadanya tak lagi yakin. “Oh ya? Siapa emangnya?”
Aku tak langsung menjawab. Aku membiarkan hening bekerja. Membiarkan tatapanku mengunci wajahnya, membuat senyumnya perlahan memudar.
“Yang jelas,” kataku akhirnya, “bukan orang yang bisa kamu remehkan.”
Wulan menggeser berat badannya. Sorot matanya berubah waspada.
“Jadi sekarang lo ngancem gue?” tanyanya, setengah berani, setengah ragu.
Aku menggeleng pelan. “Enggak. Aku cuma ngingetin.”
Aku melangkah sedikit lebih dekat, cukup dekat untuk membuatnya refleks menahan napas.
“Sejak awal disini aku gak pernah cari masalah sama siapapun."
Kutatap matanya yang tajam tetapi mengandung rasa ketakutan.
"Tapi kalau kamu masih main mulut, nyenggol hidup aku, atau nyebut anak aku lagi…”
Suaraku merendah. "Aku pastikan, yang kena bukan aku.”
Wulan menelan ludah. Untuk pertama kalinya, dia tak membalas.
Aku meluruskan badan, menatapnya satu kali lagi. Tenang, datar, tanpa emosi.
“Jadi sekarang pilihan di tangan kamu,” lanjutku pelan. “Mau hidup tenang di sini… atau nyari masalah sama orang yang salah.”
Aku berbalik tanpa menunggu jawaban.
Dan di belakangku, untuk pertama kalinya, Wulan diam.