PoV Raka Aku tiba di kantor BNN sebelum pukul delapan pagi. Langit masih abu-abu ketika mobilku berhenti di halaman parkir. Gedung itu tampak sama seperti kemarin, penuh orang yang bekerja dalam diam. Namun, hari ini rasanya berbeda. Sejak telepon misterius yang diterima Selira tadi malam, semuanya terasa jauh lebih serius. Mereka sudah tahu atau setidaknya mereka mulai curiga. Aku keluar dari mobil dan langsung menuju pintu masuk. Dua petugas berjaga di depan. Salah satunya mengangguk ketika melihatku. “Pak Bagas sudah menunggu di atas,” katanya. Aku hanya mengangguk singkat. Langkah kakiku cepat menyusuri lorong gedung. Beberapa orang lalu-lalang membawa map dan laptop. Aroma kopi masih terasa dari ruang kerja yang pintunya terbuka sedikit. Ketika aku sampai di ruang kerja Bagas,

