Ada Apa?

999 Kata

Tiga hari menikah, rasanya seperti tiga tahun penuh kebahagiaan. Hubungan kami makin harmonis—dan, kalau boleh jujur, makin overdosis romantis. Setiap pagi, aku sibuk di dapur menyiapkan sarapan, sementara Mas Mahen sibuk merecoki. Dia akan datang dari belakang, memeluk pinggangku, lalu membisikkan ide-ide gila yang nyaris selalu berujung di satu hal: mencoba “ibadah” di berbagai lokasi. Dapur, balkon, pinggir kolam renang, sampai ruang kerja—semua masuk daftar. Pagi ini pun begitu. Kami baru saja selesai sarapan, meja masih penuh piring, gelas, dan sisa roti. Aku pikir kami akan duduk santai menikmati kopi— ternyata tidak. “Sayang,” suaranya rendah, penuh ajakan. “Ayo berenang.” Aku menatapnya dengan ekspresi kaget. “Mas, aku udah mandi. Udah wangi, udah cantik. Masa harus nyemplung

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN