Maklum Pengantin Baru

1056 Kata

“Ahhh—” Desahanku menjadi tanda bahwa pergulatan kami belum juga usai, meski keringat sudah membasahi kulit dan udara di sekeliling terasa menipis. Mas Mahen benar-benar dimabuk cinta, tak mampu menahan hasrat setiap kali berada di dekatku. “Sayang,” panggilnya dengan tatapan sayu. “Kenapa nggak jawab?” “Capek, Mas—” rengekku. “Kita udah dua jam lebih kayak gini, loh.” Bukannya berhenti, Mas Mahen justru kembali menempelkan bibirnya di bibirku, kali ini dengan ciuman panas yang membuatku terhanyut. Gerakannya kian dalam, menghentak hingga membuat tubuhku lemas tak berdaya. “Sekali lagi— setelah itu kita mandi sama-sama,” ujarnya di sela ciuman, suaranya berat dan bergetar. Bibirnya tak benar-benar lepas. Dia bergeser, mengulum, menghisap, dan menggigit lembut bagian favoritnya, memb

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN