Kupikir Ayah datang ke Bali kemarin karena peduli padaku. Karena ingin mendampingi putrinya menikah dengan restu seorang wali. Kupikir, meski hubungan kami selama ini renggang, setidaknya di hari itu Ayah mau menjalankan perannya sebagai orang tua. Ternyata aku salah. Semua itu bukan tentang aku. Bukan tentang kebahagiaanku. Ayah menjadikan pernikahanku sebagai cara untuk menukar tanggung jawabnya—menukar semuanya dengan keuntungan dari keluarga Wirasatya. Demi apa? Demi menyelamatkan restoran yang hampir bangkrut karena ulah menantu kesayangannya sendiri. Sakit rasanya. Ternyata aku bukan alasan Ayah berdiri di sana. Aku hanya dijadikan alat. Alat untuk menutup aib. Alat untuk menjaga nama baik. Alat untuk melindungi keluarga barunya. Sementara aku? Putrinya sendiri? Tidak pernah ja

