Dari balik jendela, samar-samar telingaku menangkap suara gaduh di halaman belakang. Bukan pertengkaran serius, melainkan debat kecil yang terdengar kocak—suara Mama dan Papa saling bersahutan, persis dua anak kecil yang sedang berebut mainan. Aku mengernyit heran, lalu melirik ke arah Mas Mahen yang duduk santai di sofa. Dia tampak tenggelam dalam iPad di pangkuannya, jemarinya lincah menyapu layar—seolah sama sekali tak terusik oleh riuh di luar. “Mas,” panggilku pelan. “Hm?” Dia hanya menggumam, matanya tak lepas dari layar. Aku mendekat, duduk di sampingnya. “Aku penasaran— sebenarnya Mama sama Papa lagi ngapain sih di halaman belakang? Dari tadi suaranya kayak lagi lomba adu mulut.” Mas Mahen lantas mengangkat wajah, menatapku dengan senyum tipis di ujung bibirnya. “Mereka sedang

