Setelah makan malam, kami masih duduk di depan tenda. Obrolan ringan ditemani suara debur ombak dan sisa bara api unggun membuat suasana terasa hangat. Papa beberapa kali melontarkan candaan, Mama langsung menanggapi, sementara aku dan Mas Mahen ikut tertawa bersama. Tanpa terasa malam sudah semakin larut. Kami pun akhirnya berpisah dan masuk ke tenda masing-masing. Di dalam tenda suasananya tenang. Lampu kecil di sudut memancarkan cahaya redup, cukup membuat isi tenda terlihat jelas. Aku berbaring miring, menatap wajah Mas Mahen yang ada di sampingku. Awalnya aku hanya diam, memainkan ujung selimut, tapi d**a terasa sesak. “Mas—” panggilku pelan. Mas Mahen menoleh, langsung menatapku. “Ada apa, Sayang?” Aku menggigit bibir, lalu pelan-pelan berkata, “Aku takut, Mas.” Alisnya terang

