Selesai sarapan, kami beranjak dari meja makan. Papa menerima telepon dari sekretarisnya, sementara Mama sibuk merapikan tas. “Ayla, sebelum pulang ke Jakarta kita mampir dulu ke pusat oleh-oleh, ya,” ajak Mama sambil mengecek barang bawaannya. Aku langsung mengangguk antusias. “Iya, Ma. Aku mau beli kain endek sama kopi Bali buat teman-teman kantor.” Mas Mahen, yang semula sibuk dengan ponselnya, menoleh. “Aku ikut, ya.” “Nggak usah, Nak. Biar Mama sama Ayla aja. Kamu urus kerjaanmu,” ujar Mama sambil tersenyum. “Lagian, kalau belanja perempuan biasanya lama. Nanti kamu malah bosan.” Mas Mahen sempat ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Ya sudah. Hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku.” “Iya, Mas. Tenang aja,” jawabku sambil mengecup pipinya. *** Di pusat oleh-oleh sua

