Sepanjang perjalanan, Mama sama sekali tidak bisa diam. Sejak pesawat lepas landas dari Bali, omelannya tentang Om Angga terus mengalir tanpa henti. "Keterlaluan sekali kelakuan Mas Angga tadi," ujar Mama sambil menggelengkan kepala. "Sudah tua, tapi masih saja bertingkah seperti anak kecil yang berebut mainan." Papa yang duduk di seberang hanya mengangguk pelan sambil membaca koran, sesekali melirik Mama dengan tatapan penuh kesabaran. Sepertinya Papa sudah terbiasa menghadapi cara Mama meluapkan emosinya. "Bayangin aja, Pa," lanjut Mama sambil menoleh ke Papa. "Di tempat umum, di depan orang banyak, dia bilang Ayla seharusnya nikah sama Bima. Mana dia bilang masalah kemarin itu sepele! Sepele apanya coba?" Papa hanya mengangguk lagi, tidak berusaha menyela. Mungkin Papa tahu kalau Ma

