Bu Denita hendak meninggalkan ruangan VIP. Namun sebelum dia sempat keluar, suara Nina tiba-tiba terdengar. “Bu, boleh minta tolong sebentar?” panggilnya dengan nada ramah, tapi aku bisa menangkap ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyumnya. Aku sontak menoleh ke arahnya. “Nin—” suaraku nyaris berbisik, tapi sepertinya dia sengaja tidak mengindahkannya. Bu Denita menghentikan langkah. Dia perlahan menoleh, wajahnya kaku namun berusaha tenang. “Iya, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sopan. Nina mengangkat pisau steak sambil meringis. “Hehe, saya belum pernah makan steak, jadi bingung cara memotongnya. Bisa tolong potongkan untuk saya?” Seketika suasana meja menjadi canggung. Dina menoleh ke arahku dengan alis terangkat, sementara Riko justru tampak menahan tawa. Aku menghe

