“Sayang—” Begitu keluar dari lobi hotel, aku langsung menoleh ke depan. Mas Mahen berdiri sambil bersandar di mobil, melambaikan tangan padaku dengan senyum hangat. Tanpa pikir panjang, aku berlari kecil menghampirinya. Begitu tiba di depannya, Mas Mahen merentangkan tangan, dan aku langsung tenggelam dalam pelukannya. “Capek, hm?” tanyanya sambil mengusap kepalaku pelan. Aku hanya mengangguk di dadanya, lalu bergumam manja, “Capek banget.” Tak lama kemudian aku melepaskan pelukan dan menoleh sekilas ke arah pintu lobi hotel. Di sana, Nina baru saja keluar bersama Bima. Wajahnya masam, masih saja menggerutu seolah belum puas melampiaskan dendam pada ibu tiriku. Aku mendesah pelan. “Mas, aku ada cerita buat kamu.” “Soal ibu tiri?” tebak Mahendra cepat. Aku langsung mengangguk, sama

