“Ah— sekarang aku tahu, selain menjadi penjaga kedai es teh dan donat, Dira juga menumpang di rumah bos-nya.” Aku pun langsung berkata pada perempuan yang kini sibuk menyiapkan pesananku, tentu sambil sesekali melirik Dira dengan tatapan penuh ejekan. “Kebetulan aku punya unit apartemen yang kosong. Jika berminat bisa menyewanya. Letaknya pun di pusat kota dan akses mudah,” ujarku tenang. Perempuan itu mendongak, matanya membesar. “Mbak Dira mana punya uang untuk menyewa apartemen, Mbak. Dia aja tinggal di rumahku gratis.” “Oh—” aku pura-pura terkejut, lalu tersenyum miring. “Apalagi tadi aku dengar kalau ibunya baru saja dipecat karena difitnah sama menantu keluarga kaya,” tambah perempuan itu polos, tanpa sadar menyinggung luka lama. Aku menoleh sekilas pada Mas Mahen. Tatapan suam

