Komputer menyala di depanku, menampilkan denah bangunan yang seharusnya aku selesaikan hari ini. Namun, garis-garis lurus itu tampak berantakan di mataku. Fokusku buyar. Pensil yang sejak tadi kugenggam hanya kugelindingkan di atas meja, tanpa pernah benar-benar aku gunakan. Kenapa aku jadi seperti ini, ya? Sudah hampir dua minggu aku kehilangan semangat kerja. Padahal dulu, setiap kali aku menatap kertas kosong atau layar CAD, ide-ide bisa langsung mengalir. Sekarang, bahkan untuk menggambar sebuah pintu saja aku butuh waktu lama. Aku menunduk, menopang dagu dengan tangan. Bayangan wajah Mas Mahen langsung muncul begitu aku memejamkan mata. Apa yang dia sedang lakukan sekarang? Apakah sudah makan siang? Atau masih sibuk rapat? Aku menghela napas berat. Rasanya aneh— aku, yang dulu se

