“Sepertinya tidak perlu membawa suamimu untuk membahas rencana menjaga Tara,” ujar Dirga, yang kini tengah terintimidasi oleh tatapan tajam Mas Mahen. Galang mendesah kasar. “Benar, aku setuju dengan Pak Dirga.” Aku menoleh ke samping, lalu mencubit pelan pipi Mas Mahen. Gemas, karena dia membuat kedua pria di depanku merasa tidak nyaman. “Aku suami Ayla sekaligus calon ayah dari janin yang ada di perutnya. Jadi, wajar kalau aku harus memastikan keselamatannya,” tegas Mas Mahen. “Kamu sudah mengatakan itu untuk yang ke-12 kalinya. Aku hanya mengingatkan kalau kamu lupa,” sahut Dirga. “Dan aku akan terus mengatakannya lagi setiap kali kamu masih berani mengajak istriku bertemu di cafe,” balas Mas Mahen, tak mau kalah. Ya ampun, perdebatan ini sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu

