Aku sedang duduk bersandar di headboard, membaca buku kehamilan yang Mama berikan tadi siang. Jari-jariku sesekali berhenti di halaman yang membahas perkembangan janin minggu pertama. Rasanya aneh—bahagia sekaligus gugup. Tiba-tiba suara pintu kamar berderit pelan. Aku menoleh, dan begitu melihat siapa yang berdiri di ambang pintu, senyumku langsung merekah. “Mas Mahen—” Suamiku berdiri di sana, wajahnya terlihat lelah tapi matanya berbinar. Senyuman kecil muncul di bibirnya, dan tanpa banyak kata, dia segera melangkah cepat mendekatiku. Aku menutup buku di tanganku dan meletakkannya di samping. Entah kenapa jantungku berdetak semakin kencang, seperti remaja yang baru ketemu pacarnya. Begitu jarak kami tinggal sejengkal, Mas Mahen langsung memelukku erat. Rasanya lega, semua rindu se

