Aku berpegangan pada wastafel, tubuhku gemetar. Perutku terasa melilit sampai akhirnya aku menunduk ke kloset dan memuntahkan makanan yang baru kumakan. Air mataku keluar begitu saja, bercampur dengan keringat dingin yang menetes di pelipis. Rasanya benar-benar melelahkan. “Pelan-pelan, Sayang,” ujar Mahen yang sejak tadi memijat lembut tengkukku. Aku berusaha bertahan dengan memegang sisi wastafel, tapi tenagaku sudah hampir habis. Mas Mahen menunduk, satu tangannya menyangga pinggangku, sementara tangan lainnya memijat pelan tengkukku. Sentuhannya membuatku merasa lebih nyaman. “Udah, Mas,” suaraku nyaris hilang. "Sudah agak reda mualnya?" tanyanya. Wajahnya tidak panik, justru penuh perhatian. Belum sempat menjawab, aku sudah kembali muntah. Tubuhku hampir terjatuh, tapi Mas Mahe

