Setelah tiga bulan tak bisa melakukan apa pun, akhirnya tubuhku terasa sedikit ringan. Rasa mual pun sudah tak sesering dulu. Tepat saat itulah, Galang datang membawa sekotak kue basah. “Ayla, aku beliin klepon sama nagasari. Katanya, ibu hamil suka yang manis-manis,” ujarnya sambil meletakkan kotak itu di atas meja nakas. Aku langsung tersenyum lebar. “Ya ampun, Galang! Kamu tuh baik banget. Terharu aku!” Belum sempat aku menyentuh kue, suara berat Mas Mahen terdengar menyela. “Galang.” Nada dinginnya membuatku refleks menoleh. Galang yang tadinya tenang, langsung mengangkat alis. “Apa, Mas?” “Jangan terlalu sering bawain Ayla makanan. Apalagi yang manis-manis, sementara kamu nggak tahu pasti kebersihannya. Dia gampang mual, aku nggak mau perutnya makin rewel.” Aku tertegun menden

