Halaman belakang rumah sore ini dipenuhi gelak tawa—lebih tepatnya, tawaku sendiri. Di depan meja kecil yang penuh kue mini dan teko teh mainan, Dirga duduk dengan wajah pasrah. Pipinya sudah ku poles blush on pink menyala, bibirnya berkilau oleh lip gloss, dan di kepalanya bertengger bandana kelinci yang aku pakaikan. “C’mon, Tuan Putri Dirga,” seruku sambil menyodorkan cangkir teh mainan ke tangannya. “Ayo, senyum manis. Pura-pura lagi minum teh.” Dirga mendengkus. “Ay— serius deh, kalau foto ini sampai menyebar, reputasiku sebagai CEO keren bisa hancur seketika.” Aku terkikik, lalu menyambar ponselku. “Justru itu tujuannya. Biar orang-orang tahu kalau di balik wajah sok keren kamu, tersimpan jiwa princess yang terpendam.” Saat Dirga hendak protes lagi, langkah Mama terdengar mendeka

