Pukul 1 siang—halaman belakang sudah berubah seperti ballroom hotel. Balon pastel, kain dekorasi, bunga segar, hingga meja panjang penuh kue-kue manis, semuanya tertata rapi. Mama sibuk memberi arahan kepada tim event organizer yang sedang bertugas sejak subuh. “Cepat, bunga mawar itu taruh di sisi kanan, jangan miring! Eh, Mas Galih, meja harus ditambah. Nanti tamu datang, jangan sampai ada yang merasa tidak nyaman!” Suara Mama terdengar nyaring dari teras yang menghubungkan ruang keluarga dengan halaman belakang. Aku duduk di sofa sambil ngemil keripik buah. “Ma, ini acara tujuh bulanan atau resepsi pernikahan lagi?” tanyaku. Mama hanya melirikku sekilas lalu tersenyum lebar. “Sayang, ini acara untuk calon cucu pertama Mama. Masa dibuat biasa-biasa saja? Harus istimewa, dong!” Aku me

