Mama kelihatan senang sekali. Dari tadi senyumnya nggak lepas sejak aku bilang kalau aku benar-benar berhenti kerja. Wajar sih, soalnya Mama sering khawatir aku terlalu sibuk sampai lupa jaga kesehatan. “Alhamdulillah, akhirnya Mama bisa tenang. Sekarang fokus sama kesehatan kamu, Nak. Mama gak suka lihat kamu sakit begini,” kata Mama sambil menggenggam tanganku erat. Aku ikut tersenyum. “Iya, Ma. Rasanya lega. Memang berat ninggalin kerjaan, tapi aku nggak mau bikin Mas Mahen khawatir lagi.” Belum sempat aku melanjutkan, Mas Mahen langsung menoleh. “Aku takut keputusan ini bukan dari hati kamu,” ujarnya lembut. “Sayang, ini bukan karena Mama, kan?” Aku langsung melotot, dalam hati menggerutu, ‘Mas, kok bisa-bisanya ngomong gitu di depan Mama?’ Benar saja, Mama langsung menatap tajam

