Ketukan pelan di pintu membuatku dan Mas Mahen serentak menoleh. Tak lama kemudian, Bibi masuk dengan senyumnya yang ramah. “Non Ayla, Den Dirga datang. Katanya ingin bertemu dengan Non,” ucapnya sopan. Aku mengangguk pelan. “Bibi, tolong bilang ke Dirga untuk menunggu di ruang keluarga. Aku segera turun.” Bibi mengangguk, lalu berpamitan keluar. Begitu pintu tertutup, aku bisa merasakan tatapan Mas Mahen yang seketika menjadi tajam. “Kamu nggak usah turun, Sayang. Kondisi sedang sakit. Biarkan saja Dirga pulang, atau aku yang menemuinya.” Aku menggelengkan kepala. “Nggak bisa, Mas. Ada hal penting yang harus aku bicarakan langsung sama dia.” Setelah beberapa detik berpikir, akhirnya Mas Mahen mengalah. “Ya sudah. Tapi aku nggak mau kamu turun sendiri.” Tanpa menunggu protesku, Mas

