Aku tidak menyesal karena telah mendiamkan Mas Mahen. Dan, keputusanku mengusirnya dari kamar memang sudah tepat. Bagaimana tidak? Bisa-bisanya dia ke rumah sakit tanpa pamit, padahal keadaan Febi hanya lecet-lecet biasa. Semua orang bergegas menjenguknya hanya karena dia menolak minum obat. Sepele sekali, tapi Mas Mahen menurutinya. Aku menarik napas dalam, berusaha menahan rasa sesak yang mendesak keluar. “Jadi itu alasannya? Karena Febi nggak mau minum obat, terus Mas bela-belain ninggalin aku sendirian?” “Iya, Sayang,” jawabnya dengan memasang wajah melas. Aku menatapnya tajam. “Aku nggak tahu apakah Febi sudah benar-benar menerima kehadiranku di keluarga Wirasatya atau belum. Tapi yang pasti, aku nggak suka Mas terlalu memanjakannya, meski dengan alasan dia sepupu perempuan satu

