“Sudah jam 8, Sayang. Harus sarapan dan minum obat,” ujar Mas Mahen sambil meletakkan nampan di meja kecil dekat tempat tidur. Aku hanya mendengkus kecil, tetap menenggelamkan wajahku di bantal. Rasanya malas sekali menatapnya, apalagi mengingat semalam dia dengan enteng meninggalkanku demi menjenguk Febi. “Sayang—” suaranya turun satu oktaf, agak tegas. “Kamu mau bikin aku khawatir lagi?” Aku bergeming. Hanya memeluk bantal makin erat, pura-pura tidur. Beberapa detik hening, lalu terdengar derit kasur ketika dia duduk di pinggir ranjang. Aroma parfum maskulin khas dirinya ikut menyeruak. “Sarapan ini dibuat Mama khusus buat kamu. Makanan kesukaan menantu cantiknya. Masa iya kamu tega bikin Mama kecewa, hm?” bisiknya di dekat telingaku. Aku menggertakkan gigi pelan. Aneh sekali, bahka

