Entah kenapa akhir-akhir ini tubuhku cepat sekali lelah. Baru sebentar duduk di sofa, kepalaku sudah terasa berat dan pandangan berkunang-kunang. Aku menguap lebar, lalu tanpa pikir panjang meraih bantal kecil yang selalu tersedia di ruang kerja Mas Mahen. “Sayang, mau bobo lagi?” suara Mas Mahen terdengar dari balik laptopnya. Aku menggeleng pelan sambil merebahkan diri di sofa empuk. “Nggak bobo, cuma merem sebentar.” “Pusing dan lemes lagi, Sayang?” Aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Mas Mahen langsung berdiri dari balik meja kerjanya. Dengan langkah tergesa dan wajah panik, dia menghampiriku. “Sayang, kalau pusing jangan dipaksa buat temani aku kerja.” Aku menghela napas kecil, memejamkan mata sejenak. Rasanya memang tubuhku semakin berat. Aku baru saja terbangun. Saat

