Chapter 12

1247 Kata
Alessia Wilson. Wanita itu tengah berjalan dari meja ke meja untuk menuangkan minuman di gelas para karyawan yang hadir. Gadis itu sama sekali tak memperhatikan sekitarnya dan hanya fokus pada tugasnya. Ia bahkan tak memperhatikan bahwa Harry yang tengah berbicara di atas panggung menghentikan ucapannya hanya untuk menatapnya. Sementara yang lain, mereka sibuk bertanya-tanya kenapa sang CEO itu tiba-tiba menghentikan pidatonya. Mereka lantas memusatkan perhatiannya pada apa yang yang Harry lihat sedari tadi yang membuat semua mata mengarah pada Alessia yang tengah menuang minuman. Namun, hal itu sama sekali tak mengganggu Alessia. Karena ia berpikir bahwa itu hal biasa untuknya. Walau ia tak tahu alasan orang-orang selalu memandangnya. Setelah meja yang satu, Alessia beralih ke meja yang lain dan menuangkan minuman ke dalam gelas yang kosong. Dan selama itu pula orang-orang masih memandangnya sembari bertanya-tanya mengapa sang CEO tampan yang tengah berdiri di atas panggung memandang seorang pelayan begitu lekat. Hingga sebuah deheman mengalihkan perhatian mereka kembali ke atas panggung. Harry. Pria itu berdehem sebelum melanjutkan ucapannya. Suara tepuk tangan pun terdengar ketika Harry telah selesai menyampaikan pidatonya. Ia turun dari atas panggung lalu duduk kembali di kursinya. “Harry!” Panggil seorang wanita sembari duduk di kursi kosong samping Harry. Shailine Wallace. Gadis itu datang bersama Andrew dan Grace, orang tua Harry. Gadis itu tampak lebih ceria dan fresh malam ini. Tampak seperti tak ada apa-apa yang terjadi padanya. Walau ini hanya acara khusus para karyawan, tapi kedua orang tua Harry merasa bahwa mereka harus hadir di acara tersebut karena ini merupakan acara tahunan perusahaan. “Mommy tidak bisa hadir malam ini. Katanya urusannya di Australia belum selesai” Ujar Shailine pada Harry. Sementara Harry hanya mengangguk saja tanda bahwa ia mengerti. Tak lama Alessia datang membawa sebotol wine dan mulai menuangnya ke dalam gelas Harry yang masih kosong. Hal itu sontak membuat Harry kembali menatap Alessia dengan lekat tanpa memalingkan pandangannya. Entah mengapa, ia tak bisa memalingkan pandangannya dari Alessia. “Oh, kau ‘kan si cleaning service itu” Seru Shailine yang terkejut saat melihat Alessia yang membuat wanita itu juga memandangnya, namun tak lama. Tak hanya Shailine, Grace dan Andrew pun turut terkejut dengan kehadiran Alessia malam ini. “Kamu juga mengenalnya?” Tanya Grace. “Iya, Aunty. Aku bertemu beberapa kali dengannya di ruangan Harry dan lobi” Jawab Shailine. “Oh ya. Aunty juga pernah melihatnya” Ujar Grace. “Honey, tidak bisakah kamu diam sebentar? Orangnya masih ada di sini” Sahut Andrew lembut sembari menggenggam tangan sang istri dan menatapnya penuh arti. Mendengar perkataan suaminya, Grace lantas tersadar dan sontak melihat Alessia yang tengah menuangkan minuman pada gelasnya. “Oh, maafkan aku Ale. Aku hanya sedikit terkejut melihatmu datang sebagai pelayan di sini “ Ucap Grace. “Tidak apa-apa, Mrs.” Ucap Alessia. Sementara Grace merasa seperti hatinya tersayat mendengar Alessia dengan panggilan itu. “Apa kau memiliki hubungan khusus dengan Harry?” Tanya Shailine tiba-tiba. “Lily!” Tegur Harry dengan cepat. “Kenapa Harry? Aku hanya bertanya” Ucap Shailine. “Saya permisi” Ucap Alessia kemudian beranjak dari tempatnya dan melanjutkan tugasnya. “Dia terlalu cantik untuk jadi pelayan, apalagi cleaning service. Andai saja aku bisa memilikinya” Sahut Grace sendu. “Honey, tenang saja. Kita masih bisa membuat putri kecil yang cantik” Goda Andrew sembari menaik turunkan kedua alisnya, mengalihkan pikiran sang istri dari masa lalu. “Dan semua tulang-tulangku ini akan remuk karena gairahmu dengan alasan seperti itu” Ucap Grace. “Wah... Mendengar ucapan Aunty Grace, sepertinya Uncle Andrew sangat hebat di ranjang” Puji Shailine. “Tentu saja. Itu adalah salah satu pesonaku. Benarkan Honey?” Tanya Andrew pada Grace dengan bangga. Sementara mereka bertiga bercanda gurau. Harry sibuk dengan pikirannya sendiri. Entah mengapa jantungnya berdetak sangat kencang ketika melihat Alessia. Ah tidak, bahkan setiap ia melihat gadis itu, ia merasakan gelenyar aneh di dadanya. Padahal gadis itu tak melakukan apapun padanya, bahkan dengan berani gadis itu membentaknya. Ia bahkan tak bisa melakukan apapun pada gadis itu. Padahal biasanya ia akan langsung memecat orang yang berani bertingkah tidak hormat padanya. Maka dari itu seluruh karyawannya selalu mematuhi peraturan yang ia buat. Sepertinya ada yang salah dengan dirinya. Sejak pertama kali ia mencium aroma parfum Alessia, ia merasa ingin selalu berada di dekat wanita itu agar dapat selalu mencium aromanya setiap saat. Mungkinkah dia... “Hei!” Tegur Shailine mengejutkan Harry. “Kau sedang memikirkan dia, ya?” Bisiknya dengan suara pelan agar tak mengganggu percakapan suami istri yang ada di depannya.. “Who?” Tanya Harry. “Alessia. Si cleaning service itu” Jawab Shailine. “Absolutely no” Ucap Harry bohong. “Bilang saja, aku akan menjaga rahasiamu. Kau menyukainya ‘kan?” Mata Harry membulat mendengar pertanyaan blak-blakan dari sepupunya itu. “Absolutely no” Bantah Harry dengan tegas. “Atau kau mencintainya?” “Hentikan Lily. Jangan bertanya yang aneh-aneh lagi. Minum saja minumanmu” “Harry, kenapa kau selalu menyangkal pada hal yang sudah jelas? Dari caramu menatapnya saja aku sudah tahu kalau kau menyukainya walaupun kau selalu menyangkalnya. Aku yakin saat kau melihat gadis itu, jantungmu pasti berdebar-debar, seperti ada kupu-kupu di dalam perutmu, dan kau merasa ingin selalu bersamanya” Shit! Maki Harry dalam hatinya. Semua yang dikatakan Shailine padanya itu benar. “Benarkan?” Tanya Shailine sembari menaik-turunkan alisnya. “Percayalah padaku Harry, kau benar-benar menyukainya. Aku memberitahumu ini agar kau tak menyesal nanti karena terlambat menyadari perasaanmu sendiri. Siapa tahu saja nanti dia sudah dimiliki seseorang atau dia...” “Shut up Lily! Kau terlalu cerewet malam ini” Pintah Harry. Namun, sungguh ia sama sekali tak menyukai kalimat terakhir Shailine. ------- Acara malam ini telah selesai, para cleaning service yang bekerja malam ini pun berkumpul untuk mendapatkan upah mereka, termasuk Alessia. Setelah masing-masing menerima amplop yang berisi uang, mereka semua pun berganti pakaian dan pulang ke rumah masing-masing. “Hei! Kau dapat berapa?” Bisik salah seorang cleaning service pada temannya yang dapat Alessia dengar karena mereka berada tepat di depan mereka. “Aku dapat seratus dolar. Kau?” Jawabnya. “Aku juga” Setelah sampai di rumahnya, Alessia lalu memeriksa upah yang ia dapatkan malam ini. Alessia mengambil sebuah amplop dari dalam tasnya kemudian membukanya dan uang sebesar dua ratus dolar berada di dalam amplop tersebut. Pikirannya lantas melayang pada dua orang yang berbisik di belakangnya. Mereka berdua mendapat upah seratus dolar, namun upahnya dua kali lipat dari mereka. Biasanya ia tak memikirkan hal-hal seperti ini, namun ia sudah terlanjur melihat perbedaannya. Ia berpikir mungkin petugasnya salah memasukkan upah untuknya. Ia kemudian berpikir untuk mengembalikan lebihnya pada petugas yang memberinya uang tersebut hari senin besok. ------- “Pagi Ale!” Sapa Luna dengan semangat hari ini. “Di mana petugas yang memberikan upah kemarin?” Tanya Alessia to the point. Awalnya Luna tak mengerti maksud Alessia. Namun setelah berpikir beberapa saat, ia lalu mengerti apa maksudnya. “Ah, maksudmu pria yang membagikan uang waktu acara kemarin malam?” Tanya Luna memastikan. Alessia hanya mengangguk sekali sebagai jawabannya. “Dia adalah asisten HRD. Ruangannya ada di lantai lima belas, sebelah kiri lift dan pintu ketiga sebelah kanan. Memangnya kenapa?” Tanya Luna. Tanpa menjawab pertanyaan Luna, Alessia bergegas ke ruangan yang telah disebutkan Luna tanpa ragu. Ia bahkan belum mengganti seragam khusus cleaning service-nya. Ia ingin segera mengembalikan uang tersebut. Setelah sampai di lantai lima belas, Alessia berjalan ke arah kiri lift. Kosong, ruangan tersebut masih kosong. Tanpa memikirkan hal lain, ia lalu mengetuk pintu ketiga yang dimaksud Luna. Alessia segera masuk setelah mendengar kata ‘masuk’ dari pemilik ruangan tersebut. “Ada urusan apa?” Tanya pria muda yang tengah duduk di balik meja tersebut, Peter. “Saya ingin mengembalikan sebagian dari upah kemarin malam” Ucap Alessia sembari meletakkan sebuah amplop di atas meja Peter. “Apa maksudmu?” Tanya Peter dengan kening berkerut. “Setahu saya, upahnya hanya sertaus dolar. Namun di amplop saya terdapat dua ratus dolar” Jelas Alessia. Kening Peter semakin berkerut, namun tak lama karena ia telah mengetahui situasinya. “Apa namamu Alessia Wilson?” Tanya Peter. “Ya” “Kalau begitu, kau telah menerima uang dengan jumlah yang benar. Jumlah itu memang dikhususkan untukmu karena di antara yang lain kau yang paling banyak melakukan pekerjaan dengan baik. Lagipula Mr. Wallace sendiri yang memberikannya, jadi terimalah dengan senang hati” “Mr. Wallace?” “Ya. Dia melihatmu telah bekerja dengan giat kemarin malam. Jadi dia memberikanmu bonus lebih” “Apakah yang lainnya juga seperti itu?”    ------- Love you guys~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN