“Tidak. Hanya kau saja”
Tanpa berkata apapun lagi, Alessia hanya membungkuk sedikit sebagai tanda hormat kemudian segera keluar dari ruangan tersebut menuju ruangan cleaning service untuk mengganti pakaiannya. Tak lupa juga ia membawa amplop yang tadi ia taruh di atas meja.
Dalam benaknya ia sungguh tidak menyukai hal ini. Ia tahu siapa itu Mr. Wallace. Dia adalah pemilik perusahaan besar tempatnya bekerja saat ini. Tapi ia tetap saja tak suka, apakah ucapannya tempo hari masih tidak jelas untuknya.
Bahkan alasan untuk memberikan dia uang bonus sangat klise. Bukannya ingin menolak rezeki, tapi ia sungguh membenci orang yang memberi dengan rasa iba atau sejenisnya. Karena ia tahu, bukan hanya dirinya yang bekerja maksimal malam itu.
Setelah semua perlengkapan kebersihannya siap, ia lantas menuju lantai paling atas gedung ini. Di saku celananya juga telah siap amplop yang tadi ia perlihatkan pada Mr. Peter.
Setelah sampai, ia lantas berjalan menuju ruangan Harry. Ia melihat Laura telah berada di kursinya. Tanpa memedulikan Laura, Alessia segera masuk ke dalam ruangan Harry dan langsung membersihkannya. Ia akan meletakkan amplop berisi uang tersebut setelah ia bersih-bersih.
Akhirnya pekerjaannya telah selesai, ia lantas membereskan alat kebersihannya. Saat ia hendak mengeluarkan amplop dari sakunya, pintu ruangan tiba-tiba terbuka menampakkan sosok sang pemilik ruangan.
Niat Alessia untuk langsung menaruhnya di atas meja pun batal. Bahkan dia merasa lebih bagus lagi karena dia bertemu langsung dengan orang yang mengasihaninya. Alessia mendorong trolinya menuju Harry yang hendak berjalan menuju meja kerjanya.
“Ini uang Anda, Sir” Ucap Alessia ketika ia telah berada di depan Harry sembari menyodorkan sebuah amplop.
“Uang apa?” Tanya Harry.
“Anda memberikan uang lebih saat saya bekerja sebagai pelayan kemarin malam”
“Itu memang bonus untuk kerja kerasmu”
“Tapi kenapa hanya saya? Banyak yang bekerja keras kemarin malam”
“Karena hanya kamu yang ada di mata saya”
Astaga?! Apa yang telah ia katakan? Ia mengatakannya tanpa berpikir terlebih dahulu. Harry langsung mengatupkan bibirnya dan menormalkan jantungnya yang mulai menggila, walau wajahnya tetap datar seperti biasa.
“Saya tetap tidak bisa menerimanya, Sir. Apalagi dengan alasan klise seperti itu” Ucap Alessia dingin kemudian menaruh amplop tersebut pada tangan Harry kemudian mendorong trolinya untuk keluar dari ruangan tersebut. Ia tak mau berlama-lama lagi di ruangan itu.
“Saya menyukai kamu!”
Demi apa?! Demi apa Harry mengatakan hal keramat itu? Hal yang tidak pernah ia ucapkan sekalipun. Entah mengapa ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengatakan hal itu ketika melihat Alessia hendak pergi meninggalkannya.
Ucapan Harry sontak membuat Alessia menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Harry dengan tajam.
“Perhatikan ucapan Anda, Sir” Ujar Alessia dingin, lebih dingin dari sebelumnya. Ia kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan Harry.
“Sial!” Maki Harry ketika Alessia benar-benar telah menghilang dari ruangannya.
Ia membanting tasnya ke atas meja dengan keras. Bagaimana bisa ia mengucapkan kalimat itu? Ia sendiri bahkan tak bisa percaya hal ini.
Tapi tunggu, apa ia baru saja ditolak?
Ia mengatakan bahwa ia menyukai Alessia dan gadis itu malah mengingatkannya tentang ucapannya. s**t! Double s**t!
Ini kali pertama Harry mengatakan bahwa ia menyukai seseorang dan ia langsung ditolak. Walau sebelumnya ia masih belum mengetahui perasaannya dengan jelas. Tapi kini ia rasa semuanya sudah jelas. Karena entah mengapa, mendengar ucapan Alessia tapi membuat dadanya... sesak.
“Aku akan mendapatkanmu, Alessia Wilson”
-------
Akhir-akhir ini, hari-hari Alessia diisi dengan hal cukup mengganggu baginya. Setiap pagi ketika ia akan pergi bekerja dan malam saat ia pulang bekerja, selalu saja ada sebuket bunga mawar yang terletak di depan pintu rumahnya.
Dan itu cukup mengganggu aktivitasnya karena ia harus membuangnya terlebih dahulu ke tempat sampah. Bahkan secarik kertas di bunga yang ia terima hanya terdapat kalimat “Happy good day, Baby. Love H.”.
Dulu, Alessia menyukai bunga. Halaman rumahnya pun dipenuhi oleh berbagai jenis bunga. Namun sejak kematian orang tuanya, ia sudah tidak merawat bunga-bunga itu lagi dan membiarkannya layu begitu saja.
Ia takut. Jika ia merawat bunga-bunga itu, maka... tidak. Lupakan.
Selain menerima bunga dari pengirim berinisial ‘H’, Alessia juga selalu menerima bunga dari pengirim yang sama dengan inisial ‘K’. Isi suratnya pun selalu membuat Alessia mual.
Hari ini adalah hari minggu. Dan Alessia hanya bisa berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun setelah membuang bunga yang ia terima tadi pagi.
Diam menatap kosong pada televisi dengan siaran yang bahkan tidak ia perhatikan.
Tapi tiba-tiba saja pikirannya melayang pada percakapannya dengan Jacob tempo hari.
“Mendiang Mr. Wilson mengatakan bahwa beliau membangun perusahaan tersebut dari nol hingga menjadi perusahaan besar seperti sekarang tanpa sepengetahuan Anda dan mendiang Mrs. Wilson karena ingin memberikan kalian kejutan. Tapi sepertinya hal itu tidak dapat terlaksana karena keadaan beliau. Beliau juga mengatakan bahwa memiliki perusahaan besar merupakan mimpi Anda sejak kecil. Jadi mengapa Anda menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin hanya datang satu kali pada Anda?” Ucap Jacob.
“Anda juga tidak ingin menempati rumah yang beliau bangun agar Anda dapat membuat kenangan baru. Bukankah mendiang Mr. Wilson akan sedikit kecewa dengan keputusan Anda saat ini?” Tanya Jacob.
Alessia yang tengah memeluk lutut memejamkan mata kemudian menundukkan kepalanya. Ia mendesah.
Mengapa ia tak menempati rumah yang diberikan mendiang Ayahnya? Karena rumahnya yang sekarang penuh dengan kenangan mereka bertiga. Jika ia pindah, maka ia merasa kenangan itu akan menghilang. Karena di rumah inilah satu-satunya kenangan yang ia miliki bersama keluarga kecilnya.
Kalaupun suatu hari ia harus pindah dari rumah tersebut, itu karena ia sudah memiliki seseorang yang akan mampu memberikan kenangan baru untuknya. Tapi sepertinya itu akan mustahil.
Dan mengapa ia tetap menjadi cleaning service padahal ia telah mendapat warisan yang cukup? Untuk itu, Alessia juga kurang yakin. Ia merasa sudah nyaman dengan kehidupannya yang sekarang.
Bekerja dan melupakan semua kesedihan yang akan menggerayangi otaknya jika ia senggang. Dan lagi, ia juga tak memiliki pengalaman untuk membuka sebuah usaha. Apalagi dengan dirinya yang hanya lulusan menengah pertama, mana ada orang yang akan mempercayakan sebuah perusahaan besar pada dirinya?
Tapi, memori tentang perbincangan antara ia dan kedua orang tuanya tiba-tiba hadir dalam benaknya. Ia kembali mengingat apa yang ingin ia raih untuk kedua orang tuanya.
Keinginan itu.
Keinginan itu.
Alessia membuka matanya sembari mendongakkan kepalanya menghadap televisi yang berada tepat di hadapannya dengan sebuah tekad yang cukup kuat. Sebuah keputusan yang telah ia ambil.
Dua hal yang mungkin akan mengubah hidupnya.
-------
“Who are you?!” Tanya Harry ketika ia memasuki ruangannya dan mendapati seorang wanita tengah mendorong troli pembersihnya hendak keluar dari ruangannya.
“M, m, maaf, Sir. S, saya seorang cleaning service” Jawab wanita tersebut tergagap sekaligus takut melihat tatapan tajam Harry padanya.
For god shake, Harry bukan orang bodoh yang tidak mengenali seragam cleaning service perusahaannya sendiri yang dikenakan oleh wanita tersebut. Yang ia maksud adalah kenapa bukan Alessia yang membersihkan ruangannya, melainkan wanita itu? Sungguh, dia sudah sengaja datang lebih awal untuk bertemu dengan Alessia.
“Di mana Alessia?” Tanya Harry to the point. Ia tak mau repot-repot menjelaskan pertanyaannya pada wanita itu.
“A, A, Alessia?” Bukannya menjawab, wanita itu malah balik bertanya padanya.
“Ya”
“D, dia sudah b, berhenti mulai hari ini, Sir”
“Apa?!”
Sial.
Kenapa Alessia malah berhenti di saat dia sudah bertekad? Bukan ini yang ia harapkan.
“K, kalau begitu saya permisi, Sir” Ucap wanita itu takut kemudian segera mendorong troli pembersihnya keluar dari ruangan Harry.
Laura yang melihat wanita itu hanya mengerutkan keningnya, bingung melihatnya yang seperti habis dikejar oleh anjing.
-------
Gimana menurut kalian chapter ini? Tulis komentar kalian yaa^^
Love you guys~