“Nyamuk?!” gumam Genta terkekeh pelan. Greget, Rhea bergeser mendekat dan mengkruwes paha Genta sekuat mungkin. Senyum mengejeknya seketika raib. Genta meringis kesakitan mencengkram tangan Rhea dan menggenggamnya erat. Tidak kurang akal, kuku-kuku panjang Rhea pun balas mencengkram sampai Genta mendesis merasakan perih. Beruntung kemudian lift berhenti di lantai delapan. Begitu mereka keluar dan menyisakan ketiganya di sana, Genta pun mau tidak mau melepas tangan Rhea. Pegawai yang bersama mereka sudah bergeser maju. Tidak ada yang bersuara. Tapi, paling tidak Rhea lega sudah bisa berjarak. Sampai di lantai sepuluh mereka pun keluar dari lift. Lantai ini khusus untuk ruang kerja dokter dan segala fasilitas khusus mereka. Namun, tetap saja tempat senior dan dokter biasa itu terpisah. S

