Di kamar kecil yang menempel pada ruang rawat bayi, Alea duduk di tepi ranjang, melipat pakaian satu per satu. Gerakannya tenang, tapi matanya sayu, seolah setiap lipatan kain mengandung beban yang tak sanggup ia jelaskan. Koper kecil berwarna biru muda terbuka di hadapannya, isinya sebagian besar pakaian ganti dan perlengkapan sederhana—bekal yang ia bawa langsung dari Yogyakarta ketika pertama kali menerima panggilan darurat dari Bude Laksmi. Ia belum sempat pulang ke rumah bude-nya, bahkan belum sempat tidur dengan benar. Semua waktu ia habiskan di rumah sakit—di ruangan ini—antara menggendong baby Alan atau membantu menjaganya saat malam hari. Namun pagi ini terasa berbeda. Udara di kamar itu dingin, tapi ada kehangatan samar yang tertinggal dari pelukan bayi semalam. Dan entah kena

