Bram masih duduk di kursi, tubuhnya condong ke depan, jemari menekan pelipis seolah berusaha menahan sesuatu yang menekan dadanya. Pintu yang baru saja menutup di belakang Alea meninggalkan gema aneh dalam pikirannya. Harusnya ia lega. Harusnya ia senang, karena Alea akhirnya setuju dengan tawaran yang ia lontarkan kemarin — tawaran untuk diam dan pergi, dengan imbalan uang yang cukup besar untuk menutup mulut siapa pun. Dengan begitu, rahasia yang selama ini menghantui hidupnya akan terkubur rapat. Tidak akan ada yang tahu bahwa 11 bulan yang lalu, ia pernah menikahi perempuan itu. Bahwa pernikahan mereka hanya berlangsung seumur jagung, berakhir dengan luka yang ia torehkan pada perempuan itu. Namun, yang justru ia rasakan kini adalah kegelisahan. d**a seperti ditindih batu berat. Napa

