Baby Alan menggeliat kecil di ranjang bayinya, tubuh mungilnya bergerak pelan di balik selimut tipis. Beberapa detik kemudian, tangisannya mulai terdengar — pelan di awal, lalu meninggi, bening, dan memecah ketenangan pagi itu. Bram yang duduk di kursi dekat jendela sontak berdiri. Wajahnya yang semula datar langsung berubah panik. Ia melangkah cepat ke arah ranjang kecil itu. “Hey, hey … kenapa, Nak?” gumamnya terbata sambil memeriksa tubuh Alan. Tangannya sedikit kaku, tapi penuh kehati-hatian. Ia menepuk lembut perut si kecil, lalu memeriksa bagian popok. “Kamu pipis, ya?” ujarnya pelan, separuh gugup. Namun popok itu masih kering. Bram menelan ludah, napasnya mulai tidak beraturan. Ia menggendong Alan, mencoba menimang-nimang bayi itu, menepuk punggungnya seperti yang sering dilaku

