Pagi yang baru mulai berdenyut di luar rumah sakit itu terasa asing bagi Alea. Langkahnya cepat, tapi hatinya bergetar tanpa arah. Begitu keluar dari lobi rumah sakit, udara lembap pagi menyambutnya — campuran aroma tanah basah, asap kendaraan, dan samar bau antiseptik yang masih menempel di kulitnya. Ia menuruni tangga depan, menyeberang pelataran kecil, lalu melipir ke sisi bangunan rumah sakit tempat gang sempit terbentang. Di sepanjang gang itu, dunia terasa berbeda: hidup, ramai, dan penuh warna. Deretan gerobak kecil berdiri berjejer, sebagian masih mengepulkan asap dari wajan penggorengan. Ada aroma gorengan, bubur ayam, lontong sayur, dan nasi uduk yang baru saja diangkat dari kukusan. Orang-orang berkerumun, para ibu dengan daster, karyawan rumah sakit, bahkan tukang ojek yang p

