Baby Alan masih tidur di ranjang bayi mungil di sisi tempat bed tambahan. Napasnya teratur, wajahnya damai. Tapi di sekitarnya, suasana seperti ditarik dua arah: antara ketenangan yang rapuh dan ketegangan yang hampir pecah. Bram duduk di kursi dekat ranjang bayi, menatap kosong ke arah putranya. Setelah Rian keluar tadi, keheningan terasa berat. Ia memutar cangkir kopinya perlahan, matanya sesekali melirik dua pintu berbeda — satu menuju kamar mandi tempat Eka sedang mandi, dan satu lagi menuju kamar kecil di mana Alea masih berdiam. Ia menarik napas dalam-dalam. “Semoga mereka nggak dengar,” gumamnya lirih, nyaris tak bersuara. Pandangannya tetap terpaku pada pintu kecil itu, menahan segala kemungkinan yang membuat rahasianya terbongkar. Beberapa menit kemudian, suara gemericik air be

