Bab 9. Menyesakkan Hati

1133 Kata
Pagi itu, matahari mulai menyinari jendela besar ruang rawat yang menghadap taman rumah sakit. Tirai putih setengah terbuka, membiarkan cahaya lembut menembus ke dalam ruangan yang beraroma antiseptik dan minyak telon bayi. Udara sejuk dari pendingin udara membuat suasana terasa bersih, tapi juga kaku — seperti setiap napas di dalamnya harus dijaga agar tak menimbulkan suara yang salah. Baby Alan tidur di ranjang bayi mungil berwarna putih di dekat tempat tidur pasien. Wajahnya tenang, napasnya teratur, bibir mungilnya sesekali bergerak seolah sedang bermimpi menyusu. Alea sedang berada di kamar kecil dalam ruang rawat itu. Ia baru saja terbangun kembali dari tidurnya sebentar. Dan berniat ingin mencuci wajah dan membasahi rambutnya sedikit, berharap air dingin bisa menenangkan kepalanya yang terasa berat. Pandangannya kosong ke arah cermin. Wajahnya terlihat lelah — lingkar hitam di bawah mata, pipi yang sedikit pucat, dan tatapan yang penuh waspada. “Tenang, Alea … jangan terpancing apa pun yang dia lakukan,” gumamnya dalam hati. Ia menatap refleksi dirinya. Mungkin orang lain melihat wanita sederhana, tapi di balik mata itu ada terlalu banyak luka yang belum kering. Dari luar, terdengar suara pintu terbuka perlahan. Langkah kaki berat dan tenang. Suara sepatu kulit menjejak lantai marmer dengan ritme pasti. Alea menegakkan tubuhnya, mendengarkan. Ia tahu langkah itu — terlalu hafal. Langkah yang dulu bisa membuat jantungnya berdebar, tapi kini hanya menimbulkan dingin yang menjalar di tulang. Bram. “Alea, kamu sudah bangun.” Suaranya terdengar dari luar — datar, pendek, dan tanpa nada hangat sedikit pun. Tak ada jawaban dari dalam kamar kecil. Alea memilih diam. Beberapa detik kemudian, suara lain menyusul. Lebih ringan, terdengar sopan. “Pagi, Pak Bram. Ini kopi lattenya. Sekalian sarapan yang dipesan.” Itu suara Rian. Alea menahan napas tanpa sadar. Ia tahu suara itu juga — suara yang dulu ikut menjadi saksi akad nikah pernikahannya dengan Bram, di hari yang kini hanya ingin ia hapus dari hidupnya. “Taruh saja di meja, Rian,” ucap Bram. Kedua lelaki itu kini berada di ruang rawat, tepat di luar kamar kecil tempat Alea berdiri diam. Dari celah pintu, Alea bisa melihat sedikit bayangan mereka yang bergerak di pantulan kaca lemari bayi. Rian berkata pelan, “Bram, aku nggak nyangka ada Alea di sini.” Nada suaranya berhati-hati, seperti sedang berjalan di atas es tipis. Bram tidak langsung menjawab. Ia membuka tutup cup kopi, meniup uapnya sedikit, lalu meneguk perlahan. “Sudah aku bilang,” ucapnya akhirnya, “jangan sebut nama dia di sini.” “Tapi—” Rian tampak gelisah, sembari mengedari pandangan untuk memastikan tidak ada orang lain selain sahabat sekaligus atasannya. “Bram, orang yang dulu kamu nikahi sekarang ngurus anak kamu di rumah sakit. Itu ... gimana ceritanya? Bukannya, kamu tidak pernah menghubunginya lagi.” Alea merasakan jantungnya berdegup keras. Ia menahan napas, bersandar pada dinding kamar kecil yang dingin. Suara mereka jelas terdengar. “Bukan urusan kamu,” balas Bram pelan tapi tegas. “Yang penting sekarang, Alan dijaga. Mama maunya dia tetap menyusui bayi itu. Jadi biarkan saja dulu. Aku saja tidak menyangka kalau Alea adalah sepupunya Rere.” Rian menatapnya tak percaya. “Kamu nggak takut keluarga istri dan keluargamu tahu, terutama Tante Linda?” “Tidak. Karena tidak akan ada yang tahu.” Nada Bram menurun, dingin dan berwibawa. “Kamu tahu bagaimana caraku menjaga rahasia. Dan, kamu juga harus tetap tutup mulut.” Rian mengangguk kecil. “Tapi Bram, Alea udah tahu begini pastinya bukan lagi orang yang gampang diatur. Kalau dia mulai bicara, semuanya bisa—” “Dia tidak akan bicara,” potong Bram cepat. “Dia pasti butuh uang. Dan dia tahu batasnya. Aku akan segera mengirimkan uang untuknya.” Kata-kata itu menghantam d**a Alea seperti tamparan keras. Ia menutup mata, menggigit bibirnya sampai terasa asin. Butuh uang. Itukah yang Bram pikirkan tentang dirinya? Rian menunduk. “Aku cuma khawatir, Bram. Kalau nanti Tante Linda tahu hubungan kalian dulu, bisa—” “Rian.” Suara Bram merendah, tapi dinginnya lebih tajam dari pisau. “Berhenti. Itu masa lalu. Dan aku tidak akan biarkan masa lalu mengganggu hidupku sekarang. Aku sangat mencintai Rere!” “Baik, Bram. Terserah kamu saja, aku sebagai sahabatmu hanya mengingatkan saja.” Hening beberapa detik. Lalu Bram berkata lebih pelan, nyaris seperti gumaman, “Aku juga sudah minta kamu carikan alternatif ibu s**u yang lain. Dalam dua hari ini, urus semuanya diam-diam. Aku nggak mau tergantung pada dia terlalu lama.” Rian menatapnya kaget. “Maksud kamu … mau ganti?” Bram mengangguk pelan. “Ya. Aku tidak mau tergantung padanya terlalu lama. mama dan ibu mertuaku boleh senang dia datang, tapi buat aku … dia cuma bagian kecil dari masa lalu yang seharusnya sudah mati. Kalau bisa hari ini harus kamu dapati, aku berani bayar berapa pun.” Kalimat itu membuat Alea memejamkan mata kuat-kuat. Bagian kecil dari masa lalu yang seharusnya sudah mati. Dada Alea serasa sesak, tapi ia tetap diam. Hanya air matanya yang turun pelan tanpa suara. Rian menelan ludah. “Kalau begitu aku segera urus, Bram. Tapi ... maaf, Bram, aku masih ingat waktu itu—” “Cukup." Satu kata dingin memotong seluruh percakapan. “Jangan sebut masa itu lagi. Sekali saja kamu buka mulut, Rian, kamu tahu apa akibatnya.” Rian langsung diam. “Baik, Bram. Sorry.” Bram mengembuskan napas pelan, menatap bayinya yang masih tidur di ranjang kecil. Wajahnya tampak datar, tapi matanya kosong — seperti menatap sesuatu yang jauh dan tak terjangkau. “Sudah. Pergi, cari yang aku minta.” Rian menunduk, lalu melangkah keluar tanpa banyak bicara. Pintu ruang rawat menutup perlahan, menyisakan keheningan. Alea masih di balik pintu kamar kecil, tubuhnya menegang. Air matanya menetes tanpa ia sadari, menuruni pipi dan jatuh ke lantai dingin. Tangannya gemetar, bukan karena takut — tapi karena marah. Marah pada Bram. Marah pada dirinya sendiri yang masih bisa terluka oleh kata-kata lelaki itu. Suara langkah Bram mendekat ke arah ranjang bayi. Ia terdengar menghela napas, lalu suara kursi digeser pelan. Ia duduk. “Hidup tenang ya, Nak,” gumamnya lirih. “Papa nggak mau kamu tumbuh di tengah orang-orang berisik.” Alea menatap pintu kamar kecil itu lama. Dalam diam, matanya memancarkan api kecil — tekad yang baru tumbuh dari luka lama. Kalau Bram pikir ia akan diam, ia salah besar. Perlahan, Alea menghapus air matanya. Ia berdiri tegak, menatap bayangan dirinya di cermin kecil di belakang pintu. Bibirnya membentuk senyum samar — bukan senyum lembut, tapi senyum yang lahir dari rasa sakit yang sudah terlalu lama disembunyikan. “Kamu pikir aku masih sama seperti dulu, Mas Bram?” bisiknya pelan. “Kali ini, yang akan bermain bukan cuma kamu.” Suara air conditioner kembali terdengar pelan, berganti dengan kicau burung dari taman luar jendela. Baby Alan menggeliat kecil di ranjangnya, mengembus napas panjang seolah ikut merasakan ketegangan yang berputar di udara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN