Jarum jam dinding baru menunjuk pukul 05.10 pagi, ketika tangisan lembut kembali memecah kesunyian di ruang rawat itu.
Cahaya remang dari balik tirai menandakan hari mulai beranjak, tapi langit di luar masih kelabu. Aroma antiseptik khas rumah sakit bercampur lembut dengan wangi bayi yang baru bangun.
Tangisan itu makin jelas, lirih tapi memanggil — baby Alan.
Alea langsung tersentak bangun. Insting seorang ibu menyala lebih cepat dari pikirannya. Ia menoleh dan mendapati Alan menggeliat kecil di sisi ranjangnya, wajahnya memerah, bibirnya merengek mencari sesuatu.
“Ya ampun, Dede lapar lagi, Sayang?” bisiknya lembut, suaranya masih serak karena baru bangun.
Dengan sigap ia menegakkan tubuh, lalu meraih bayi itu ke pelukannya.
Alea membuka kancing piyamanya sambil mengusap kepala mungil itu. “Sini, Nak. Sarapan dulu, ya.”
Alan langsung menyusu dengan tenang, suara isapannya halus dan teratur. Alea menunduk menatap anak itu, matanya lembut, ada kehangatan yang tulus terpancar — berbeda dari tatapan keras yang ia tunjukkan semalam pada Bram.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.
Dari arah sofa panjang, Bram terbangun. Gerakannya pelan tapi tegas. Rambutnya berantakan, kausnya sedikit kusut, tapi tatapannya langsung waspada ketika mendengar tangisan Alan tadi.
Ia mengusap wajahnya cepat, lalu duduk. Pandangannya tertuju pada kamar Alea yang pintunya sedikit terbuka. Suara isapan pelan bayi terdengar samar dari dalam.
Bram berdiri, menghela napas panjang. Tanpa pikir panjang, ia menuju meja di pojok ruangan, mengambil termos kecil berisi air hangat, dan roti isi yang masih tersisa dari malam sebelumnya — yang dibelikan Rian.
Ia menyiapkan segelas air hangat, memotong roti itu menjadi dua bagian, lalu membawanya perlahan ke kamar Alea. Langkah kakinya nyaris tanpa suara di lantai keramik yang dingin.Tapi begitu pintu kamar itu terbuka sedikit lebih lebar, ia langsung tertegun.
Alea duduk di tepi ranjang, piyamanya terbuka sebagian, kulit pucatnya tampak kontras dengan kain putih rumah sakit. Bayi kecil itu menyusu di dadanya, sementara wajah Alea tampak lelah namun tenang. Bram segera memalingkan pandangan, darahnya seperti berdesir cepat ke kepala.
“Aku—” Suaranya tercekat. “Aku nggak sengaja. Cuma mau ngasih ini.”
Ia mengangkat gelas dan roti di tangannya, tanpa berani menatap.
Alea spontan menatap tajam. “Astaga, memangnya Pak Bram nggak bisa ketuk pintu dulu, ya?!”
Nada suaranya tinggi, tapi ditahan agar tak membangunkan Alan yang menyusu.
Bram memalingkan wajah, menelan ludah. “Aku pikir kamu menutupinya Lagian aku cuma mau antarin air hangat sama roti. Mama suruh kamu banyak makan biar ASI-nya lancar.”
Ia meletakkan gelas dan roti di nakas tanpa menoleh sedikit pun.
Alea mendengus kesal. “Lain kali ketuk dulu, jangan sok jadi pahlawan tengah pagi begini.”
“Baik,” jawab Bram datar, tanpa ekspresi. “Ada yang kamu butuh lagi?”
Alea sempat diam. Ia melihat wajah Alan yang mulai melepaskan isapan, lalu merengek kecil. “Iya,” katanya akhirnya, masih dengan nada ketus. “Tolong ambilin diapers-nya Alan, tisu basah, baju ganti, sama kain bedong. Pampers-nya udah penuh.”
Tanpa banyak bicara, Bram hanya mengangguk. Ia meletakkan air dan roti di atas nakas, lalu keluar kamar. Suara langkahnya tegas namun terukur, seperti orang yang menahan emosi.
Alea menarik napas panjang.
“Masih sama kayak semalam,” gumamnya pelan. “Selalu dingin, tapi selalu sigap.”
Beberapa menit kemudian, Bram kembali. Di tangannya ada sekantong perlengkapan bayi yang lengkap — popok, tisu, baju mungil berwarna putih, serta kain bedong motif bintang. Ia menaruh semuanya di kursi dekat ranjang.
Alan kini sudah selesai menyusu dan tertidur kembali di pangkuan Alea. Wajahnya tampak damai. Alea mengelus pipi bayinya dengan lembut, lalu perlahan meletakkannya di atas ranjang.
“Udah selesai?” tanya Bram pendek.
Alea menoleh sekilas. “Iya. Gantiin popoknya.”
Bram menatapnya datar. “Kamu aja.”
Alea memutar mata. “Aku baru nyusuin, tanganku masih pegal. Pak Bram lah yang gantiin, kan, Alan anakmu. Kalau kamu bisa sok perhatian ngasih air segala, masa ganti popok aja gak bisa?” sindirnya ketus.
Bram diam sejenak, menatap bayi itu.
Lalu tanpa kata, ia melangkah mendekat. Ia melepas selimut kecil Alan, membuka diapersnya perlahan. Tangannya cekatan, setiap gerakan dilakukan hati-hati dan bersih — seperti seseorang yang sudah terbiasa.
Ia membersihkan tubuh mungil itu dengan tisu basah, mengganti popok, lalu memakaikan baju baru, bahkan membedongnya dengan rapi.
Alea menatap diam-diam dari tepi ranjang. Matanya tak berkedip.
Setiap gerakan Bram — tenang, teratur, penuh kehati-hatian — membuat hatinya bergetar aneh. Air matanya menetes tanpa ia sadari.
Dulu, saat mereka masih suami istri, ia sering membayangkan momen seperti ini. Mereka punya bayi, ia menyusui, Bram yang mengganti popok, lalu mereka tertawa bersama di pagi hari. Ia pernah percaya, Bram akan menjadi ayah yang siaga dan penyayang.
Tapi kenyataan menghantam terlalu keras. Baru sebulan menikah, Bram menceraikannya.
Tanpa alasan jelas, tanpa penjelasan layak. Dan sebelum Bram tahu — ia sudah mengandung benih darinya.
Alea menutup mulut, menahan isak yang hampir pecah. Tangannya meremas selimut di pangkuan. “Ya Allah …,” gumamnya lirih. “Kenapa rasanya sakit lagi, padahal aku udah berusaha lupa.”
Bram selesai membedong bayi itu, lalu menatap Alan dengan ekspresi datar — tapi matanya lembut. “Sudah. Gantian kamu yang makan, isi perutmu,” katanya datar. Ia menunjuk ke arah nakas. “Airnya masih hangat. Rotinya juga masih bisa dimakan.”
Alea menatapnya lama, seolah ingin membaca maksud di balik nada dingin itu. Tapi Bram tidak menatapnya. Ia sibuk merapikan selimut kecil di sisi bayi, memastikan semuanya sempurna.
“Kenapa kamu masih bisa semanis ini … tapi di waktu yang salah,” gumam Alea dalam hati, perih sekali.
Ia meraih gelas air, meneguknya pelan. Air hangat itu seolah menenangkan tenggorokannya yang kering, tapi tidak dengan dadanya yang terasa sesak. Ia lalu mengambil roti itu, menggigit sedikit, meski tak ada selera sama sekali.
Bram duduk di kursi dekat tempat tidur sembari mengendong Alan, diam, hanya menatap ke arah luar jendela.
Langit perlahan mulai terang, cahaya pagi menembus tirai tipis, menimpa sebagian wajahnya. Dalam diam, Alea memperhatikan profil itu — rahang tegas, sorot mata yang pernah ia cintai, kini terasa asing. Tapi sekaligus … terlalu familiar.
Satu pertanyaan tiba-tiba muncul di kepalanya — menusuk dan menyesakkan.
Kenapa dia nggak nanya apa-apa?
Kenapa Bram tidak sekali pun bertanya: anak siapa yang baru ia lahirkan? Lalu mana anaknya?
Padahal jelas-jelas ia bisa menyusui Alan, bayi yang bahkan darahnya campuran keluarga Bram dan Rere.
Alea menunduk dalam, memejamkan mata. Hatinya berdebar cepat.
“Jangan-jangan … dia tahu? Atau … dia pura-pura nggak tahu?” pikirnya dalam hati.
Detik berikutnya, ia sadar — lidahnya hampir saja meluncur menanyakan hal itu. Tapi ia menahannya.
Tak ada gunanya membangkitkan masa lalu yang sudah mengubur seluruh harga dirinya.
Ia datang ke Jakarta bukan untuk mengorek luka lama. Ia datang karena permintaan budenya — untuk menyusui cucunya, membantu keluarga yang sedang berduka. Bukan untuk berhadapan lagi dengan laki-laki yang pernah menghancurkan hidupnya.
Alea meneguk sisa air di gelasnya, lalu berdiri, mengatur selimut bayi itu. “Udah, kamu bisa keluar sekarang,” katanya tenang tapi dingin. “Aku mau istirahat sebentar”
Bram menatapnya sebentar. Wajahnya datar, tapi rahangnya mengeras. “Terserah kamu,” katanya pendek, lalu melangkah keluar kamar membawa Alan.
Begitu pintu tertutup, Alea menatap bayangan dirinya di kaca lemari.
Matanya sembab. Ia menyentuh d**a, di mana hatinya berdegup tak karuan. “Kapan aku bisa benar-benar lepas dari dia?”
Di luar, Bram berdiri menatap jendela besar ruang rawat. Cahaya pagi menimpa wajahnya. Napasnya pelan, tapi matanya gelap.
Dalam hati, ia bergumam lirih,
“Masih sama, Alea. Selalu bikin aku bingung — antara marah, kasihan, dan … nggak bisa berhenti peduli.”
Di balik tirai yang bergoyang lembut diterpa angin pagi, dua hati yang dulu pernah bersatu kini berdiri di dua dunia yang sama — tapi terpisah oleh jarak yang lebih dingin dari udara rumah sakit itu sendiri.
Dan di antara keduanya, bayi mungil bernama Alan terlelap damai — tak tahu bahwa ia sedang menjadi jembatan yang mempertemukan dua jiwa yang masih berdarah luka, tapi diam-diam … masih saling menggenggam kenangan.