Bab 7. Di Antara Tangis Dan Dendam Yang Tak Padam

1503 Kata
Jam dinding di ruang rawat bayi itu menunjuk pukul 01.03 dini hari. Di luar, hujan sudah lama berhenti, namun udara lembap masih menempel di kaca jendela. Lampu kota yang samar menembus tirai, menebarkan cahaya kekuningan ke dinding putih ruangan. Namun ketenangan itu tak bertahan lama. Sebuah suara lirih pecah di antara hening. Awalnya hanya rengekan halus, nyaris tak terdengar. Tapi perlahan berubah menjadi isak pelan, lalu tangisan yang mulai meninggi — suara khas bayi yang resah dan kelaparan. Baby Alan menggeliat dalam tidurnya, tangannya meninju-ninju udara, wajahnya memerah. Bram yang terbaring di sofa panjang mendadak membuka mata. Refleksnya tajam, seolah tubuhnya mengenali tangisan itu lebih dulu daripada pikirannya. Ia menegakkan badan, rambutnya berantakan, mata masih berat oleh kantuk, namun begitu melihat bayi itu menangis, naluri ayah—langsung mengambil alih. “Dede …,” gumamnya serak sambil berdiri, mendekati ranjang kecil di dekat jendela. Alan menangis lebih keras, suaranya menggema di seluruh ruangan. Bram menunduk, mengusap lembut perut dan d**a kecil bayi itu. “Hei … ada apa, hmm?” Suaranya berusaha tenang, tapi tatapannya penuh khawatir. “Dede mau nyusu, ya?” Ia menatap ke arah Eka, yang berjanji tadi akan berjaga malam ini. Tapi perempuan itu tertidur pulas di bed tambahan, tubuhnya miring ke samping, ponsel masih tergenggam di tangan. Sedikit pun tak bergerak, tak terganggu oleh tangisan keras Alan. Bram mendengus pelan. “Astaga, tidur mati, ya.” Ia memutar bola matanya, lalu kembali menatap bayi itu yang kini menangis semakin keras. Napasnya cepat, tangisannya tersengal—tanda ia lapar. “Tenang, tenang, Nak.” Bram menggendong Alan perlahan. Tubuh kecil itu hangat di pelukannya. Ia menepuk-nepuk punggungnya lembut sambil bergumam. “Sabar ya, sebentar … Papa bangunkan M—” Ia menatap pintu kamar di sisi kanan ruangan — kamar kecil tempat Alea beristirahat. Bram menggigit bibirnya, enggan sebenarnya. Tapi ia tahu bayi itu tidak bisa dibiarkan menunggu terlalu lama. Alan alergi s**u formula. Mau tak mau, Alea satu-satunya yang bisa menenangkannya dengan ASI. Tangisan Alan makin keras, menusuk telinga. Bram menarik napas panjang, lalu melangkah menuju pintu kamar Alea. Suara detik jam terdengar sangat jelas ketika ia berhenti di depan pintu itu. Ia mengetuk pelan. “Lea,” panggilnya rendah. Tak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, sedikit lebih keras. “Alea … Alan nangis, kayaknya mau nyusu.” Masih sunyi. Tangisan bayi di gendongannya semakin menjadi-jadi, membuat Bram akhirnya mendorong pintu itu perlahan. Engselnya berderit halus. Cahaya temaram dari lampu tidur memantul lembut ke wajah Alea yang tertidur di ranjang. Rambutnya terurai di bantal, beberapa helai menempel di pipinya. Wajahnya terlihat tenang, terlalu tenang—mungkin karena kelelahan setelah perjalanan jauh. Bram tertegun. Entah kenapa, melihat wajah itu seperti menariknya kembali ke masa lalu yang ingin ia lupakan. Malam-malam ketika ia menatap wajah yang sama, dengan perasaan yang sangat berbeda. Ia menelan ludah, lalu menunduk melihat Alan yang masih menangis di dadanya. “Nak, jangan nangis dulu ya … bentar aja.” Ia menatap kembali Alea. Senyum getir muncul di bibirnya, samar tapi nyata. Lalu perlahan, ia menyentuh bahu Alea. “Lea, bangun ....” Alea menggeliat kecil, membuka mata perlahan. Pandangannya masih kabur, lalu fokus pada wajah Bram yang berdiri di sisi ranjang. Seketika matanya melebar, terkejut melihatnya begitu dekat — dengan bayi di pelukannya. “Alan,” suaranya langsung berubah cemas. Ia bangkit setengah duduk, meraih bayi itu. “Kenapa? Kenapa nangis segitunya?” Bram menyerahkan Alan ke pelukannya. “Kayaknya mau nyusu. Aku udah coba gendongin, tapi tetep nggak mau diam.” Alea langsung membuka selimutnya, menimang bayi itu dengan cermat. “Iya, dia lapar.” Ia menatap Bram sekilas, lalu mulai membuka kancing piyamanya. Tapi gerakannya terhenti. Ia sadar Bram masih berdiri di sana — di hadapannya, memperhatikannya dalam diam. Tatapan laki-laki itu sulit diartikan, tapi cukup membuat darah Alea berdesir naik ke wajah. Ia mendongak, menatapnya tajam. “Apa kamu sengaja berdiri di situ buat lihat dadaku, Pak Bram?” Nada suaranya datar, tapi dingin—menusuk. Bram langsung menegakkan tubuh, rahangnya mengeras. “Jangan mulai, Alea. Aku cuma mau pastikan Alan tenang.” “Oh ya?” Alea mengangkat alis, nada sarkastiknya keluar begitu saja. “Atau kamu cuma pura-pura peduli supaya kelihatan hebat di depan semua orang?” Bram menarik napas dalam, menahan emosi yang mulai naik. “Aku nggak mau ribut di sini. Aku hanya mau antar Alan karena menangis. Udah, aku keluar aja.” “Bagus,” balas Alea cepat sambil menatap bayinya. “Tutup pintunya sekalian.” Bram menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas dan melangkah pergi. Tapi sebelum pintu benar-benar tertutup, ia menahan gagangnya dan bertanya dengan nada rendah namun terdengar jelas: “Kamu mau aku ambilin air putih atau apa, Al?” Alea menoleh, menatapnya dengan senyum sinis. “Coba tebak sendiri, Pak Bram. Menurut Anda, apa yang dibutuhkan ibu menyusui tengah malam begini?” Bram tak menjawab. Ia hanya menatap sekilas, lalu menutup pintu tanpa kata. Begitu pintu tertutup, Alea mendesis pelan, “Ternyata … kamu sangat jauh berbeda ya, Mas.” Di luar kamar, Bram berdiri mematung beberapa saat, menatap lantai putih mengilap di bawah kakinya. Napasnya naik-turun. Dalam hati, ia bergumam tajam, “Baru juga sebentar, sudah nyerang lagi. Dasar perempuan keras kepala.” Namun tak bisa ia pungkiri — ada sesuatu yang lain yang berputar di dadanya. Semacam kekesalan bercampur perasaan aneh yang tak mau ia akui. Senyum Alea yang samar tadi, cara ia menimang bayi itu, membuat kenangan lama menyelinap kembali. Ia mendengus keras, menampar pipinya pelan, lalu berjalan ke dispenser di pojok ruangan. Ia menuang segelas air putih dan duduk kembali di sofa, tapi pikirannya melayang ke kamar Alea. Di dalam kamar, Alea menatap Alan yang mulai tenang di pelukannya. Bayi itu menatapnya dengan mata kecil bening, lalu menyusu dengan lahap. Alea mengusap lembut rambut halus di kepala bayi itu, suaranya lirih hampir seperti doa. “Tenang ya, Nak. Kamu nggak perlu tahu apa pun tentang orang-orang di sekitarmu. Tumbuhlah sehat dan cepat besar.” Suara hujan sudah berhenti, tapi sisa embun di luar membuat kaca jendela berkilau oleh pantulan lampu. Alea menatap ke arah bayangan dirinya sendiri di kaca. Mata itu—mata seorang perempuan yang dulu penuh cinta, kini hanya menyimpan luka yang terlalu dalam. “Ya Allah, apa rencana-Mu mempertemukan aku lagi dengan dia, dalam keadaan seperti ini?” Ia menunduk, menatap bayi kecil itu. “Tapi nggak apa-apa. Untukmu, aku kuat.” Beberapa menit kemudian, Alan tertidur pulas kembali. Alea meletakkannya di sisinya dengan hati-hati, memastikan posisi selimutnya pas. Lalu ia berdiri, membuka pintu perlahan. Bram masih di sofa, mata terpejam tapi napasnya tidak teratur, tanda ia tidak benar-benar tidur. Alea melangkah pelan menghampirinya. “Airnya buatku?” tanyanya lirih, melihat gelas di meja. Bram membuka mata, lalu mengangguk pelan. “Iya.” Alea mengambil gelas itu. “Terima kasih,” katanya datar, meneguk perlahan. Lalu tanpa melihat ke arahnya lagi, ia berbalik dan melangkah ke arah kamar bayi, memeriksa Alan. Namun sebelum ia benar-benar pergi, Bram bersuara, nadanya tenang tapi dingin. “Sekarang kamu berbeda, ya. Cepat marah.” Alea berhenti, menatap ke depan. “Dan Anda juga berbeda. Cepat menilai orang lain tanpa ngerti kenapa mereka seperti itu.” Mereka tak saling menatap, tapi kalimat-kalimat itu seperti anak panah yang melesat ke d**a masing-masing. Suasana di ruangan itu kembali hening, hanya suara mesin pendingin yang terdengar stabil. Eka bergumam pelan dalam tidurnya, lalu berganti posisi tanpa sadar. Alea menatap ke arah adik iparnya itu sebentar, lalu berbisik pelan tapi cukup untuk Bram dengar, “Untung dia tidur. Kalau nggak, bisa runyam semuanya.” Bram menatap punggung Alea. “Tenang aja. Aku juga nggak sebodoh itu buat buka mulut.” Alea menoleh setengah, menatapnya dingin. “Bagus. Karena kalau kamu sampai keceplosan, aku yang akan pergi duluan dari sini. Dan kamu tahu siapa yang akan paling kecewa, kan? Ibumu.” Kata “ibumu” meluncur begitu tajam hingga Bram menegakkan badan di sofa. Tatapannya menusuk, tapi ia menahan diri. “Jangan bawa Mama ke dalam urusan kita.” Alea menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Kita nggak punya urusan lagi, Pak Bram. Jadi nggak usah sok seolah masih berhak ngatur aku.” Lalu ia melangkah pergi, menutup pintu kamar di belakangnya. Bram menatap pintu itu lama sekali. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Tapi perlahan, sesuatu di matanya memudar — bukan marah, bukan kecewa — lebih pada lelah yang tak bisa ia sembunyikan. Ia menunduk, menyandarkan kepala ke sandaran sofa. “Kenapa rasanya … aku yang salah langkah lagi.” Di kamar, Alea duduk di tepi ranjang, menatap Alan yang tertidur lelap. Bayi kecil itu tampak damai, tidak tahu bahwa dua orang dewasa di sekitarnya sedang berjuang menahan badai masa lalu. Hujan mulai turun lagi di luar, pelan-pelan mengetuk kaca jendela. Dan di ruang rawat yang temaram itu, malam kembali menelan suara-suara kecil — menyisakan hanya satu hal yang terasa jelas: Bahwa luka di antara mereka belum sembuh, hanya tertutup waktu. Dan kehadiran seorang bayi mungil bernama Alan kini menjadi satu-satunya alasan keduanya bertahan — di bawah atap yang sama, dengan hati yang masih berperang diam-diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN